• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Iman

Makna Mujizat - Yesus Menyembuhkan Orang Buta Sejak Lahir

Kisah ini tercatat di dalam kitab Yohanes pasal 9 ayat 1 sampai dengan 41, yang memperlihatkan seorang buta sejak dari lahir dan tak diketahui latar belakangnya. Banyak orang berpendapat bahwa ada dosa masa lalu yang diperbuat, sehingga kebutaan itu merupakan 'hukuman' dari Allah. Namun perkataan Yesus menghancurkan stigma tersebut. Apa yang dikatakan oleh Yesus mengenai apa yang dialami orang buta ini? Dan bagaimana Injil memberi kita penerangan bagi kehidupan saat ini? Temukan jawabannya dalam kisah ini.

Apakah Kita Berdosa Sedari Dalam Kandungan?

Siang hari, saat Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang buta sejak lahirnya. Murid-murid yang melihatnya pun bertanya kepada Yesus: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta? ". Pertanyaan ini menekankan bahwa karena ada yang berbuat dosa, maka ada suatu konsekuensi yang di dapat dari Allah sebagai balasannya. Kepercayaan ini muncul bukan karena sering diucapkan oleh banyak orang, namun di dalam Taurat sendiri ada tertulis:

"Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan , Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku," - Keluaran 20:5

Pola pikir ini pun masih ada hingga saat ini. Ketika kita mengalami bencana atau hal yang tidak menyenangkan, kita dapat berkata "Sepertinya Tuhan marah karena aku melakukan dosa". Hal buruk seakan menjadi tolok ukur bahwa Tuhan menghukum kita. Apakah hal ini benar? Coba kita lihat bagaimana respon Yesus.

"Jawab Yesus: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia." - Yohanes 9:3

Yesus berkata bukan soal dia atau orang tuanya berdosa sehingga ia buta, namun karena Allah ingin menyatakan karya-Nya di dalam dia. Apakah ini berarti bahwa mereka tidak berdosa? Tidak. Bahkan Firman Tuhan sendiri menjelaskan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dosa masuk melalui manusia pertama, Adam, dan merambah ke semua keturunan manusia. Itulah sebabnya ketika kita lahir, kita langsung jadi orang berdosa tanpa harus sekolah.

Kita dapat berbohong, mencuri, mencaci, tanpa belajar karena dosa sudah menjadi natur sehingga perbuatannya berjalan natural. Lantas apakah seseorang dapat berkata bahwa dia tidak berdosa karena tidak melakukan perbuatan apapun? Firman Tuhan kembali mengingatkan kita:

"Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita." - 1 Yohanes 1:8,10

Yesus pun pernah memberi sebuah penjabaran tentang hukum taurat "Jangan Berzinah". Ia berkata bahwa jika seseorang tidak melakukan namun di dalam pikiran ia menginginkannya, ia pun sudah berzinah. Jadi bila kita simpulkan, berdosa bukan hanya soal melakukan, namun apa yang kita inginkan dan pikirkan yang melanggar ketetapan Firman Tuhan.

(Disadur dari buku: Beyond The Miracles (Michael Chrisdion, Literatur Perkantas Jawa Timur) Bab 6, hal. 127-134)

video-poster
% Sedikit lambat 00:00
00:00
00:00

Bagaimana Tuhan Mengatasi Dosa?

"Sebab upah dosa ialah maut;" - Roma 6:23a

Apa itu maut? maut bukan saja berbicara soal kematian, namun keterpisahan dari Sang Sumber Hidup. Apakah maut itu benar-benar mengerikan? Bagaimana kita mengerti bahwa maut itu mengerikan? Kita dapat melihatnya di dalam Alkitab, ketika Yesus harus menjalani penyaliban. Ketika Allah Bapa meninggalkan Yesus sehingga Ia berseru "Eli, Eli, lama Sabakhtani". Tidak ada sukacita, tidak ada rasa aman, tidak ada penyertaan. Rasa sakit, dingin, kesendirian, dan kehilangan harapan telah menyelimuti Yesus yang sedang menuju kematian. Namun ada sebuah kabar baik.

"tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." Roma 6:23b

Ada karunia Allah ketika kita percaya kepada Yesus, yaitu hidup yang kekal di dalam Dia. Alkitab berkata melalui Adam, maut telah berkuasa karena ketidaktaatannya, tetapi karena ketaatan Kristus semua orang dapat beroleh pembenaran. Karena perbuatan Kristus, maka manusia mendapat keselamatan. Sekarang mari kita lihat bagaimana Yesus menyelamatkan seorang yang buta.

"Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludah-Nya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: ”Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: ”Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek." - Yohanes 9:6-7

Ketika matanya tak dapat melihat, ia hanya dapat mendengar bahwa Yesus ada dihadapannya, bekerja untuk menyembuhkan. Apakah ia dapat memilih untuk tidak percaya pada apa yang Yesus lakukan? ya bisa saja. Namun ia memilih untuk percaya. Kepercayaan itu memampukan dirinya untuk melakukan apa yang Yesus katakan, dan akhirnya ia sembuh.

Dosa memisahkan kita dari Tuhan, Anugerah mendekatkan kita kepada Tuhan
Ps. Michael Chrisdion

Makna Mujizat: Hanya Anugerah Tuhan Yang Kita Butuhkan

Mungkin hal ini terdengar sederhana, namun dampaknya sangat mendalam. Jika kita melihat akhir kisah orang buta ini, pada ayat 25 dan 31 ia berkata:

"'Jawabnya: ”Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.” Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya." - Yohanes 9:25,31

Anugerah membuat dirinya berani mengatakan kebenaran. Orang buta ini tidak takut mendengar ancaman, bahkan ia menegaskan bahwa Yesus orang saleh yang melakukan kehendak Allah sehingga mujizat dapat terjadi. Di ayat selanjutnya diceritakan:

"Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu (dalam bahasa asli: mencari sampai ketemu) dengan dia dan berkata: ”Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya: ”Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.” Kata Yesus kepadanya: ”Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” Katanya: ”Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya." - Yohanes 9:35-38

Anugerah mempertemukan dia dengan Sang Juruselamat. Ia tidak hanya sembuh, namun diselamatkan. Anugerah tidak hanya mendekatkan, tetapi juga memampukan seseorang untuk hidup di dalam kebenaran.

Jadi, maukah kamu menerima Anugerah hari ini?

(Disadur dari buku: Beyond The Miracles (Michael Chrisdion, Literatur Perkantas Jawa Timur) Bab 6 hal. 146-147)

Diambil Dari Buku: Beyond The Miracles (Bab 6 - Mukjizat Keenam : Was Blind But Now I See)

Semua orang senang dengan mukjizat. Semua orang mengharapkan mukjizat. Namun tujuan Tuhan memberikan mukjizat adalah sebagai penunjuk arah, supaya kita mengarahkan pandangan kepada Dia. It's more than miracles...It's Jesus.

Dapatkan buku Beyond The Miracles karya Ps. Michael Chrisdion (Penerbit : Literatur Perkantas Jawa Timur) melalui link di bawah ini.