Mengapa, Tuhan?
“Apa yang kulakukan sampai harus mengalami semua ini?”
“Bagaimana bisa semua ini terjadi?”
“Mengapa, Tuhan?”
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam pikiran banyak orang. Mungkin kamu juga pernah mengalaminya. Bisa jadi pertanyaan itu muncul saat kamu kehilangan seseorang yang sangat berarti, menerima diagnosis penyakit yang berat, atau menghadapi situasi menyakitkan yang berada di luar kendalimu.
Kisah Yusuf
Ada banyak tokoh dalam Alkitab yang menghadapi kesulitan dan penderitaan, serta mengajukan pertanyaan yang sama. Mari kita melihat kisah Yusuf, yang tercatat dalam kitab Kejadian, untuk memahami bagaimana Tuhan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini.
Kisah Yusuf dapat kita baca dalam Kejadian 37–50. Sepanjang hidupnya, Yusuf mengalami banyak hal yang menyakitkan. Semua itu bermula dari sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan: perlakuan pilih kasih. Ayahnya, Yakub, memberikan jubah yang indah kepada Yusuf, sesuatu yang jauh lebih istimewa dibandingkan apa yang diterima saudara-saudaranya. Hal ini membuat mereka membenci Yusuf.
Yusuf tidak meminta jubah itu, juga tidak meminta kebencian dan konflik keluarga yang muncul karenanya. Namun, itulah kenyataan yang harus ia hadapi. Setelah itu, ada juga titik-titik terendah yang sebagian dipicu oleh tindakannya sendiri, seperti kesombongan dan kurangnya kebijaksanaan dalam berbicara. Yusuf menerima mimpi dari Tuhan, tetapi ia belum cukup bijaksana dalam menyikapinya.
Ia pada dasarnya mengatakan kepada saudara-saudaranya, “Hei, suatu hari nanti kalian semua akan sujud kepadaku!” Tentu saja, itu bukan tindakan yang bijaksana.
Saudara-saudaranya kemudian memasukkannya ke dalam sumur dan menjualnya sebagai budak. Sejak saat itu, penderitaan demi penderitaan terus datang. Yusuf bahkan difitnah dan dijebloskan ke dalam penjara atas kejahatan yang tidak pernah dilakukannya. Yusuf menghabiskan lebih dari sebelas tahun dalam penjara. Kejadian 39:20–21 mengatakan:
“Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu.”
Sekarang, bayangkan jika kamu berada dalam situasi seperti itu. Mungkin kamu akan berdoa seperti ini:
“Tuhan, keluarkan aku dari sini! Aku tidak mau berada di tempat ini. Berikan saja ‘perkenanan-Mu’ kepada orang lain. Aku tidak mau menerima ‘kebaikan-Mu’ di dalam penjara!”
Mungkin kamu pernah merasakan hal yang sama. Kamu sedang berada dalam masa-masa depresi atau kehilangan, lalu orang-orang berkata, “Tuhan selalu menyertaimu.” Namun, kamu justru ingin berteriak karena merasa tidak sanggup lagi mendengarnya. Kamu ingin keluar dari keadaan itu, bukan sekadar memiliki seseorang yang menemanimu melewati masa-masa sulit.
Belajar Meratap di Hadapan Tuhan
Ketika kita berada dalam “penjara” kehidupan, biasanya ada dua reaksi yang muncul.
Pertama, kita mengeluh, merajuk, dan terus menyalahkan keadaan. Kita merasa hidup tidak adil dan akhirnya menyerah. Atau, kita berusaha keluar dari situasi tersebut dengan kekuatan sendiri, berjuang sekeras mungkin, bahkan mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja hanya dengan berpikir positif.
Adakah cara yang lebih baik?
Kisah Yusuf menunjukkan kepada kita jalan yang lain. Bahkan dalam gelapnya penjara, Yusuf tidak berpaling dari Tuhan. Ia tetap dekat dengan-Nya.
Di sinilah kita belajar tentang ratapan. Dalam Alkitab, ratapan sering kali menjadi ruang yang kudus bagi kita untuk berduka dan menangisi masa-masa sulit, baik yang kita alami sendiri maupun yang dialami orang lain.
Meratap berarti mengizinkan kesedihan, rasa sakit, dan dukacita yang mendalam muncul dalam hati kita, lalu mengungkapkannya dengan jujur di hadapan Tuhan.
Saat kita meratap di hadapan-Nya, kita menyerahkan kekhawatiran dan kecemasan kita kepada Tuhan. Kita memberi ruang bagi-Nya untuk menghibur hati kita, menghapus air mata kita, serta memberikan penghiburan dan pengertian melalui kasih karunia-Nya.
Sederhananya, ratapan menolong kita mengingat bahwa Tuhan tetap menyertai kita.
Mazmur 23:4 mengungkapkannya dengan sangat indah:
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku.”
Jadi, daripada berpura-pura bahwa kita tidak sedang menderita, memaksakan diri untuk selalu terlihat bahagia, atau menjadikan rasa sakit dan dukacita sebagai satu-satunya identitas kita, kita bisa memilih jalan yang lain, seperti yang dilakukan Yusuf.
Kita dapat membawa rasa sakit dan kesedihan kita kepada Tuhan, sambil tetap tinggal dekat dengan-Nya di tengah semua itu.
Sebab, Tuhan akan hadir dan menjumpai kamu di tengah pergumulanmu.
Kami juga ingin kamu tahu bahwa kamu tidak harus melewati masa-masa sulit ini sendirian. Jangan ragu untuk menghubungi kami. Kami dengan senang hati akan berdoa untukmu.