• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 8 Jun 2026

Abaikan saja

Tanggal publikasi 8 Jun 2026

Apa misimu hari ini?

Aku jadi ingat di satu pagi waktu aku bangun super pagi—bahkan lebih pagi dari biasanya—karena aku tahu masih ada sekitar 160 teks yang harus disiapkan untuk rekaman Spotify kami.

Dan yaa, Keajaiban Setiap Hari itu memang kelihatannya simple dari luar, tapi sebenarnya ada banyak banget proses di balik layar sebelum semuanya tayang di berbagai platform. Tapi honestly? Semua itu worth it banget. Nah pagi itu, aku sudah bangun dengan mindset: “Oke, hari ini harus fokus. Banyak yang harus diselesaikan.” Tapi sebelum mulai kerja… aku sempat buka salah satu video Instagram yang baru tayang hari itu. Dan di sana ada komentar panjang. Isinya mengkritik hampir semuanya, pakaianku, cara aku bicara, rumah tempat shootingnya, dan lain-lain.

Jujur ya, sebenarnya bisa aja aku balas, aku jelasin trus ngebela diriku sendiri. Tapi balik lagi,hal seperti itu tetap bisa bikin sedih. Apalagi kalau sesama orang percaya malah sibuk menghakimi daripada saling menguatkan.

Justru pagi itu Tuhan seperti berbicara lembut ke hatiku: Abaikan saja. Jangan buang waktumu yang berharga.” Aku langsung kayak: “Hah? Masa gak dijawab, Tuhan? Tapi kan…” Tuhan kembali mengingatkanku pada semua pekerjaan yang menunggu—Pada misi yang sebenarnya.

Karena kalau aku tenggelam di percakapan itu, aku bakal kehilangan waktu, tenaga, emosi, dan fokus. Dan sebenarnya itu memang yang diinginkan si jahat kan? Supaya aku gak selesaikan apa yang Tuhan percayakan ke aku.  Musuh gak perlu menghancurkan kita besar-besaran. Cukup bikin kita terdistraksi aja. Bisa aja aku tidak menyelesaikan teks itu tepat waktu dan akhirnya menjalani hari dengan hati kesal, capek, dan kehilangan damai.

Dan di situ kamu sadar gak?

Terkadang, mengabaikan itu lebih bijak daripada bereaksi/menanggapi.

Dan ternyata Yesus juga melakukan hal yang sama. Waktu Dia dituduh di depan Pilatus: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?” Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun…” (Matius 27:13–14, TB)

Dan di depan Herodes juga: “Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak menjawab apa pun.” (Lukas 23:9, TB)

Yesus tahu kapan harus berbicara. Dan Dia juga tahu kapan harus diam.

Mungkin hari ini… kita juga perlu belajar hal yang sama.

Karena kamu punya misi!Ada hal-hal yang Tuhan percayakan dalam hidupmu.

Memilih untuk mengabaikan terkadang adalah keputusan yang paling bijak—bereaksi terhadap semua hal justru membuat kita kehilangan fokus terhadap apa yang sebenarnya penting.

Jadi kalau hari ini ada komentar, perkataan, atau sikap orang lain yang mencoba mengganggu damai hatimu… mungkin tidak semuanya perlu ditanggapi. Kadang pilihan paling dewasa adalah: mengabaikan, melepaskan, dan tetap berjalan maju.

Dan untuk kita berdua:Yuk, belajar untuk lebih banyak memberkati daripada menyalahkan sesama kita. Karena kasih Tuhan jauh lebih sanggup mengubahkan hati seseorang daripada perdebatan panjang kita.

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.