Ada kuasa dalam kata-kata.
Tagline “Mulutmu harimaumu” mungkin agak gamblang buat kita. Tapi ini kalimat yang aku tujukan buat aku juga. Di hari pertama kita belajar bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Tulang rusuk yang melindungi hati. Tapi kerap kali, kita menyakiti pasangan kita. Mengucapkan kata-kata yang mematikan roh-nya. Padahal Firman Tuhan bilang, (Amsal 18:21): "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya".
Mungkin aku pernah bercerita tentang ini sebelumnya. Aku di kolam renang sedang menengadah keatas. Aku lagi curhat sama Roh Kudus tentang pasangan, eh malah aku yang di koreksi. “Kalau suami sempurna, kamu belajar apa?” kata-Nya.
Aku punya suami yang luar biasa, namanya Markus. Dia pekerja keras, hatinya lembut tapi karakternya kuat. Setiap pagi dia disiplin, dari jam tidur, aturan makan, baca Alkitab sampai jadwal gym-nya? Ga pernah bolong! Tapi somehow, adaaaaa aja kekurangannya yang aku lihat. Adaaaaa aja hal-hal yang aku keluhkan. “Kamu berantakan…” “Kamu ga bisa ya jadi seperti dia?” “Kamu kurang sensitif” “Kamu gak bisa nyetir!” (haha seriously ada aja) “Kamu kurang ini, kamu kurang itu.”
Lalu… Satu hari Markus bertanya, “Kenapa yang kamu bicarakan kurang-kurangnya aku aja? Apa yang baik yang sudah aku perbuat untuk kamu, nggak kamu lihat?”
Disitu aku sadar, ada hal-hal yang seolah jadi obligasi. Padahal kalau kata Andy Stanley, “Kebahagiaanmu adalah tanggung jawabmu. Your partner is not obligated to do things for you…” Dulu waktu baru nikah, ketika dia tutup pagar kita bilang “Makasih ya sayang… sekarang kalau itu dia tutup pagar, kita bilang “Ya emang udah seharusnya dia yang nutup!” Hal-hal itu jadi terbiasa dilakukan, menjadi sebuah obligasi, yang kalau tidak dilakukan kita jadi MARAH. Padahal, kita juga bisa melakukannya. Dan kita masih bisa berterimakasih untuk hal-hal kecil.
Andy juga berkata, “Fix Your Pet, Not Your Partner". Aku setuju, sampai kapanpun kita nggak bisa berusaha mengubah orang. Yang bisa kita lakukan adalah membenahi diri sendiri, kemudian berjalan bersama sambil memberikan kata-kata yang baik, dan percaya pada potensi pasangan. Seperti yang tertulis di Amsal 12:18, "Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan".
Biarlah Tuhan menjadi sumber sukacita kita yang terutama. Dan marilah kita mencoba memberikan versi terbaik diri kita kepada pasangan.
Takeaways:
-
Sebagai wanita kita bisa memilih menopang pasangan dengan kata-kata yang ‘menyembuhkan’ atau kata-kata yang menyakiti. Pilihan ada di tangan kita.
-
Sebelum memperbesar kekurangannya, lihatlah juga kelebihan/kekuatan pasangan.
-
Tuhan jadi sukacita utama kita, ingat bahwa kita menjadi utuh karena Tuhan Yesus,
Reflection:
Coba ingat-ingat lagi, kira-kira apa ya yang suami lakukan minggu ini atau hari ini, yang patut di apresiasi? Mungkin kita bisa bilang simple thing like, “THANK YOU” buat menunjukkan bahwa kita mengasihi dan mengapresiasi dia. Yuk, dicoba?
Kamu adalah mujizat-Nya yang nyata!