• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 8 Feb 2026

Adam yang Tuhan berikan

Tanggal publikasi 8 Feb 2026

Sejak menikah, aku banyak bergumul. Lewat pergumulan ini aku tahu ada banyak hal yang Tuhan mau ajarkan. Salah satunya tentang, “Control” (kendali).

Kemarin kita bicara soal kesetaraan, tapi aku tahu, kadang masalah muncul ketika fungsi tertukar. Ketika perempuan mengambil alih kepemimpinan rohani karena ketakutan atau luka, dan laki-laki melepaskan tanggung jawabnya. Oh no, ini bakal bikin desain Tuhan menjadi kabur. 

Terus gimana kalau perahunya terombang-ambing, dan tidak ada nahkodanya? Sebagai perempuan kita pasti takut, dan itulah kenapa kita jadi pengen ambil kendali. Masalahnya, ketakutan tidak otomatis memberi mandat. Ketika kita mengambil alih kemudi karena cemas, yang sebenarnya kita lakukan bukan menyelamatkan perahu—melainkan menenangkan diri sendiri.

Lalu, apa yang bisa dilakukan ketika nahkoda belum berdiri teguh?

1. Belajar membedakan “menolong” dan “mengontrol”

Menolong adalah memperkuat fungsi orang lain.

Mengontrol adalah menggantikan fungsi orang lain.

“TUHAN Allah berfirman: Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

— Kejadian 2:18

2. Berani menahan diri, bukan karena pasrah, tapi karena percaya

Menahan diri bukan berarti diam tanpa suara, tetapi memilih waktu, sikap, dan motivasi yang benar. Kadang Tuhan bekerja bukan ketika kita berbicara lebih keras, tapi ketika kita berhenti mengendalikan hasil.

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

— Amsal 3:5

3. Menyuarakan isi hati tanpa mengambil alih kepemimpinan

Ada perbedaan antara:

“Biar aku aja yang lakukan!” dan “Hey… Aku butuh kamu memimpin di area ini.”

Yang satu menggeser, yang lain mengundang tanggung jawab.

“...Hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan juga lambat untuk marah.”

— Yakobus 1:19. Kadang kalo udah marah, tone-nya jadi beda. Bukan memberikan semangat, tapi menyakiti.

4. Menyadari bahwa Tuhan tetap Nahkoda utama

Bahkan ketika suami masih belajar memimpin, Tuhan tidak pernah meninggalkan perahu itu tanpa arah. Percayalah! Iman kita diuji bukan saat laut tenang, tapi saat kita diminta mempercayakan kemudi yang bukan di tangan kita.

“TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.”

— Keluaran 14:14

Dear Friends.. Kita dibangun dengan maksud ilahi—untuk melengkapi, menguatkan, dan berjalan bersama, bukan sendirian. Dan kalau kamu sedang melewati proses yang sama, ketahuilah…  Kamu nggak sendiri, pasangan yang ideal itu proses seumur hidup. We learn along the way - hari demi hari. Selamat berjuang ya!

Kamu adalah mujizat-Nya yang nyata!

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.