Akankah kamu bertanya pada orang yang kamu percayai,?
Kita masih membahas pertanyaan, “Bagaimana aku mengambil keputusan yang benar?” Selama beberapa hari, aku mempertimbangkan apakah aku harus menerima tawaran pekerjaan itu… Mari kita lanjutkan perjalanan ini untuk melihat langkah-langkah yang penting untuk berjalan bersama Tuhan.
Sebenarnya, semua hal berjalan dengan positif, tampaknya aku akan menerima tawaran pekerjaan itu. Pekerjaan ini akan membuka pintu yang baru dan memberiku stabilitas keuangan. Tapi hatiku tidak beroleh damai sejahtera.
Dunia selalu bilang, “Kamu tidak terikat pada siapapun, lakukan apa yang kamu suka. Lakukan apa yang baik bagimu!” Namun Alkitab berkata sebaliknya. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.” (Matius 12:36, TB) Kita akan mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Karena itu sangat perlu untuk memiliki orang-orang yang dapat kita percayai agar kita bisa minta bantuan!
Aku memutuskan untuk berbicara dengan orang tuaku mengenai tawaran pekerjaan ini. Aku tahu mereka akan dapat melihat sisi negatif yang mungkin tidak aku pertimbangkan. Tentunya pada saat itu sebenarnya aku tidak ingin mendengarkan hal tersebut, karena mungkin aku akan menolak tawaran tersebut.
"Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, Tuhan, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.” (Yeremia 17:9-10, TB)
Ayat ini terdengar tajam. Hati manusia sangat licik. Karena itu kita jangan bertindak sesuai perasaan kita. Namun, kita harus bertindak sesuai roh kita! Hati kita akan selalu berkata “Ayo coba saja.” Rohmu akan berkata “Ayo bicarakan dulu dengan seseorang yang akan membuka matamu untuk melihat kehendak Tuhan.”
Satu hari kemudian, ayahku menelepon dan mengatakan bahwa dia mendengar Tuhan dengan jelas dan berkata: “Hati-hati! Ada bahaya yang hampir tak nampak, karena itu kamu tidak dapat melihatnya.”
Itu bukan hal yang ingin aku dengar! Keadaan seperti ini dapat terjadi saat kita bercerita kepada seseorang. Kalau sudah begini, apakah kamu bersedia untuk mendengarkan peringatan ini dengan serius? "'Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.” (Amsal 19:20, TB)
Ketika kita sedang mempertimbangkan keputusan besar, maukah kamu membuka diri dan jujur dengan seseorang yang kamu percayai dan menerima nasihatnya dengan serius? Lakukan lah itu!
Kamu adalah mujizat-Nya yang nyata!