Apakah rasa sakit bikin kita pait?
Aku punya teman yang meninggalkan Tuhan karena badai cobaan dalam hidupnya yang begitu besar. Dia pelayanan, dia taat, dia banyak berkorban buat gereja… Lalu tiba-tiba istrinya menjadi gila, orang tuanya mengasingkannya, uangnya habis, dan dia sangat amat tersakiti. Bukan saja oleh hidup, tapi oleh Tuhan yang dia percayai.
Dalam buku J. L. Mackie, The Miracle of Theism, ada argumen yang menentang keberadaan Tuhan, diringkas oleh Daniel Howard-Snyder dalam Reason for the Hope Within:
“Jika Tuhan yang baik dan berkuasa ada, Dia tidak akan membiarkan kejahatan yang tidak masuk akal, tetapi karena ada banyak kejahatan yang tidak dapat dibenarkan dan tidak masuk akal di dunia, Tuhan yang baik dan berkuasa secara tradisional tidak mungkin ada. Tuhan lain atau tidak ada Tuhan mungkin ada, tetapi bukan Tuhan tradisional.”
Timothy Keller menunjukkan kelemahan dalam penalaran Mackie:
“Hanya karena Anda tidak dapat melihat atau membayangkan alasan yang baik mengapa Tuhan mungkin mengizinkan sesuatu terjadi, bukan berarti tidak mungkin ada alasan tersebut… Kita melihat tersembunyi di balik skeptisisme yang tampaknya keras kepala, keyakinan yang sangat besar pada kemampuan kognitif kita sendiri. Jika pikiran kita tidak dapat menggali kedalaman alam semesta untuk menemukan jawaban yang baik atas penderitaan, maka, tidak mungkin ada jawaban! Ini adalah keyakinan buta tingkat tinggi” (Keller, The Reason for God, 23-24).
Pernahkah kamu mengalami masa penderitaan dalam hidup yang, jika dilihat kembali, kamu menyadari bahwa hal itu bermanfaat bagimu dalam beberapa hal? Mungkin temanku tidak melihat itu. Kini dia jadi ateis, dan setiap hari berlindung pada pemikiran dan kekuatannya sendiri. Padahal aku yakin, ada kekuatan dan pewahyuan yang besar yang Tuhan mau berikan lewat kesakitannya.
Bahkan pemazmur mengakui bahwa penderitaan memiliki manfaatnya: “Lebih baik bagiku, bahwa aku ditimpa kesengsaraan, supaya aku dapat belajar tentang ketetapan-Mu” (Mzm. 119:71).
Timothy Keller mengatakan, “Jika anda memiliki Tuhan yang agung dan transenden sehingga anda marah karena Dia belum menghentikan kejahatan dan penderitaan di dunia, maka anda (pada saat yang sama) memiliki Tuhan yang agung dan transenden sehingga memiliki alasan yang baik untuk membiarkannya berlanjut yang tidak dapat anda ketahui” (Keller, The Reason for God, 25).
Apakah rasa sakit dan penderitaan sebenarnya merupakan bukti keberadaan Tuhan dan BUKAN ketidak-adaan Tuhan? Yes.
Bagaimana jika saya mengatakan kepadamu bahwa rasa sakit dan penderitaan, alih-alih menjadi bukti yang menentang keberadaan Tuhan, sebenarnya merupakan bukti keberadaan-Nya?
Atas dasar apa kita menempatkan keyakinan kita bahwa manusia seharusnya tidak menderita? Jika tidak ada standar objektif tentang benar dan salah (yang akan mengarah kepada Tuhan), lalu apa dasar penderitaan sebagai sesuatu yang tidak adil dan jahat? Ternyata, rasa sakit, penderitaan, dan kejahatan yang benar-benar tidak adil di dunia ini menunjukkan adanya standar benar dan salah yang objektif dan tidak berubah – yang menunjukkan keberadaan Tuhan.
Jadi sahabat, ketika kamu belum menemukan titik terang. Jangan memilih untuk jadi pahit. Tetaplah bersyukur dan memuji Tuhan. Jaga spiritmu, keep it sweet not bitter. Aku yakin Tuhan akan menolongmu, dalam waktuNya bukan waktumu. Ikuti rencanaNya bukan rencanamu. Semangat ya!