• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 6 Apr 2026

Bagaimana egomu?

Tanggal publikasi 6 Apr 2026

“Memangnya mereka tidak tahu siapa kita?”

Aku sedang berada di belakang panggung di sebuah festival open-air, menunggu giliran untuk tampil, ketika seorang artis lain tiba-tiba sangat kesal. Kami—dan aku juga setuju soal ini—memang diperlakukan dengan tidak hormat, jadi artis itu marah. 😠

Tapi hal seperti itu sudah tidak terlalu menggangguku lagi. Aku bisa menerimanya karena aku tahu bahwa aku bukan sumber dari kesuksesanku; aku hanya alat Tuhan, yang bergantung pada kasih karunia-Nya. Aku tahu bahwa “kesuksesanku” sepenuhnya bergantung pada Tuhan.

Kalau Dia berkata, “sekarang sudah selesai,” maka memang akan selesai. Tapi bukan karena Dia ingin menghukumku, melainkan karena aku percaya Dia sudah menyiapkan sesuatu yang baru untukku. Sampai saat itu tiba, aku “bertahan” ketika diperlakukan tidak adil, diabaikan, atau disakiti sambil menunggu “di belakang layar” untuk giliranku tampil. Percayalah, aku sudah melewati semuanya.

Tapi aku tidak mau membuang energiku untuk menuntut hakku atau apa yang seharusnya kudapatkan, padahal sebenarnya ini semua tentang orang-orang “di luar sana”—di depan panggung!

Kamu tahu, itu juga salah satu trik iblis: membuatmu membuang energi yang sebenarnya kamu butuhkan untuk membagikan kasih Tuhan, malah habis untuk marah dan frustasi.

Kesombongan akan selalu merampas kemampuanmu untuk menyampaikan kebenaran. 

Itulah sebabnya aku mengerti apa yang tertulis di Kolose Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kolose 3:23 TB)

Dan, begitu kita bereaksi dengan, “Memangnya mereka tidak tahu siapa aku?” sebenarnya kita sedang menaruh energi kita di tempat yang salah: menjaga kesombongan kita.

Padahal Tuhan ingin kita belajar dari cara Daud menghadapinya. Dia berkata, Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku;....(Mazmur 131:2 TB)

Di bagian mana dalam hidupmu kamu perlu menenangkan jiwamu dan mengingat bahwa ini bukan tentang kamu, tetapi tentang apa yang Tuhan inginkan? Di mana kamu perlu memakai energimu untuk menenangkan jiwamu, bukan untuk melakukan “serangan balik”?

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.