• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 1 Agt 2026

Berhati-hatilah dengan Orang Munafik

Tanggal publikasi 1 Agt 2026

Dalam Matius 6, Yesus memberikan arahan tentang bagaimana cara berbicara dan mendengarkan suara Tuhan. Sebagian dari ajaran-Nya itu sangat terkenal di seluruh dunia... tapi bagian sebelumnya, jarang banget dibahas karena isinya ada beberapa peringatan dan teguran. Yesus berkata...

”Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (Matius 6:5, TB) 

Sekarang saatnya untuk ngaku. Ada kalanya ketika aku sedang berada di acara doa karyawan, alih-alih benar-benar hadir dan menyatu dengan doa-doa rekan pendeta serta rekan kerjaku, alih-alih memberikan dukungan doa buat mereka, atau benar-benar mendengarkan dan terinspirasi oleh kata-kata doa mereka, pikiranku malah sibuk memikirkan apa yang bakal aku ucapin pas giliranku tiba nanti. Aku mulai melatih intonasi suaraku ala pendeta—"BAPA KAMI YANG DI SURGA..." Aku mengatur alur pikiranku supaya terdengar sangat teologis dan berwibawa. Lagipula, aku kan seorang "pendoa" profesional... ya, kan?

Di momen-momen seperti itu, aku bukannya sedang berdoa, tapi aku sedang pamer dan sombong. Di momen-momen itu, aku sudah terjebak dalam kesombongan, dan aku bisa mendengar Yesus berbisik dari ayat ini: “Deb, stop pamer. Penontonmu itu cuma Satu saat kamu berdoa, jadi kembalilah fokus dan ikutlah konsen dalam momen doa ini... seperti yang sudah Kuajarkan... seperti yang sudah Kucontohkan ke kamu.”

Saat kamu berdoa, baik sendirian maupun bersama-sama, mulailah dari dasar yang penuh kerendahan hati dan ketahuilah bahwa kamu selalu disambut oleh Tuhan yang sudah mengetahui setiap kata dan pikiran yang sedang terbentuk di momen tersebut. Alih-alih bersikap sombong, Yesus menawarkan cara yang berbeda, cara yang penuh kerendahan hati...

“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.(Matius 6:6, TB)

Saat mendengar instruksi tersebut, kamu mungkin langsung piikir tentang masuk ke dalam kamar tidur atau ruang kerjamu. Tapi coba mari kita bayangkan suasana yang berbeda. Pada zaman Yesus, di komunitas petani dan nelayan di sekitar Danau Galilea, mereka tidak punya kamar pribadi yang khusus dijadikan tempat kerja atau tempat tidur. Bahkan, di sebagian besar rumah di Palestina, satu-satunya ruangan yang punya pintu hanyalah semacam gudang penyimpanan atau tempat persediaan makanan, barang berharga, dan peralatan. Ruangan ini sifatnya sangat sederhana dan bersahaja, dan disitulah yang Yesus mau. Supaya lingkungan sekitar yang sederhana bisa selaras dengan kita yang rendah hati datang kepada Raja di atas segala raja. Dia, sekali lagi, menyambut kita sebagai keluarga saat kita berdoa... dan kita pun masuk ke dalam sebuah dialog sakral, esensinya Tuhan yang tidak bisa kita lihat, secara langsung menyatakan diri-Nya sebagai Bapa surgawi yang penuh kasih.

Jadi hari ini, datanglah kepada Bapamu yang penuh kasih dalam doa yang tenang dan rendah hati. Dia sudah tahu apa saja yang menjadi kebutuhanmu, dan meskipun terkadang kita merasa canggung dengan keheningan saat menaikkan permohonan kita, Tuhan tetap ingin kita menyampaikan setiap kerinduan kita di hadapan-Nya.

Dia adalah Bapamu yang penuh kasih, dan Dia rindu mendengar suaramu hari ini. Dan gak akan pernah lupa,

Kamu adalah keajaiban!

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.