Berhenti sejenak dan mencari Tuhan
Kamu langsung berhenti saat melihat rambu STOP, kan? Karena kamu tahu betapa berbahayanya kalau kamu memilih untuk tidak berhenti.
Bukankah akan menyenangkan kalau ada rambu STOP yang sama jelasnya untuk area-area lain dalam hidup kita? Tapi di sisi lain, Tuhan juga tidak pernah mengharapkan kita mengenali bahaya-bahaya itu sendirian… dan memang seharusnya tidak begitu.
Aku terus bergerak, bahkan bekerja sampai malam hari supaya bisa memaksimalkan setiap momen. Kalimat yang paling sering didengar orang tuaku dariku adalah, “Aku tidak punya waktu.” Kamu bisa bayangkan, hampir tidak ada waktu tersisa untuk Tuhan.
Suatu hari, ketika aku hendak berangkat ke sebuah janji yang sangat penting, aku tiba-tiba jatuh pingsan di kamar mandi. Telingaku membentur gagang pintu dengan sangat keras sampai akhirnya aku harus dibawa ke rumah sakit dan dijahit. Di situlah Tuhan dengan tegas berkata, “Berhenti.” Aku benar-benar membutuhkan momen itu untuk mengevaluasi ulang hidupku.
Aku berharap kamu tidak perlu menunggu sampai sejauh itu untuk menyadari bahwa berhenti sejenak kadang jauh lebih penting daripada terus memaksa diri maju.
Hari ini aku hidup berbeda. Kalau aku jujur pada diriku sendiri dan juga padamu, kesuksesan justru datang lebih cepat dan lebih mudah sekarang (segala kemuliaan bagi Tuhan!). Kesuksesan yang dulu tidak bisa aku alami, meskipun aku bekerja lembur tanpa henti.
Mengapa bisa begitu? Dengan senang hati aku ceritakan. Aku harap kamu sungguh-sungguh merenungkan ayat ini, karena ayat ini punya kuasa untuk mengubah hidupmu:
“dan bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37:4, TB)
Tuhan rindu memberikan semua yang Dia inginkan untukmu. Tetapi supaya itu bisa terjadi, sering kali kamu perlu berhenti—dan memastikan bahwa kamu hidup dalam hubungan yang terhubung dengan-Nya. Berhenti bersama Tuhan jauh lebih penting daripada terus mendorong diri tanpa arah.
Kamu adalah mujizat-Nya yang nyata!