• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 14 Jun 2026

Bersama Tuhan, hal ITU beneran mungkin terjadi!

Tanggal publikasi 14 Jun 2026

Baru-baru ini, aku lagi jalan-jalan di sebuah kota besar bareng teman baruku. Hati kami rasanya hancur banget ketika melihat ada begitu banyak tunawisma di luaran sana—di tengah cuaca yang dingin luar biasa. "Aku cuma berharap bisa berbuat lebih banyak," katanya dengan sangat terharu. Terus dia bilang, "Padahal di luar sana ada banyak tempat penampungan dan bantuan buat mereka—kenapa mereka nggak pergi ke sana aja ya?"

Belakangan, di hari yang sama, pas kita makin akrab, dia mulai terbuka dan cerita, "Aku nggak punya hubungan yang baik sama papaku. Aku bener-bener nggak bisa memaafkan dia."

Tanpa dia sadari, hatinya sendiri pun sebenarnya sedang terjebak dalam "kebekuan" yang mendalam. Dan aku mencoba berbicara lembut dengannya tentang hal itu, aku mendapati diriku menanyakan hal yang sama: "Tuhan mau bantu kamu melewati ini semua. Dia mau menjadi tempat amanmu—kenapa kamu nggak datang saja kepada-Nya?"

Ingat nggak tentang janda yang pertama kali dimintai minum oleh Elia? Alkitab bilang dia pergi mengambilkan air untuk Elia, karena itu adalah sesuatu yang dia punya lumayan banyak. Tapi begitu Elia minta roti, perempuan itu langsung berhenti dan berkata, "...Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikit pun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." (1 Raja-raja 17:10-12, TB)

Tetapi Elia menenangkan dia: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya... Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." (1 Raja-raja 17:13–14, TB)

Gampang banget buat bermurah hati dengan apa yang kita punya banyak. Tapi pertanyaannya, apakah kamu bisa tetap murah hati dengan hal yang pas-pasan atau cuma kamu miliki sedikit saja?

Cerita ini menunjukkan kepada kita kalau Tuhan sebenarnya sudah nggak sabar pengen membuat janda ini mengalami mukjizat! Bersyukur banget dia akhirnya memutuskan untuk membagikan miliknya yang sedikit itu kepada Elia—kalau nggak, dia pasti bakal melewatkan mukjizat itu! Karena sejujurnya: Tuhan nggak bisa melipatgandakan apa yang kamu simpan erat-erat untuk dirimu sendiri (baca 2 Korintus 9:6, TB).

Dan aku berdoa semoga temanku ini bisa menemukan kekuatan untuk memaafkan papanya—bahkan di saat dia merasa nggak punya cukup kekuatan untuk melakukannya.

Di area mana Tuhan lagi menantang kamu untuk memberi dari kekuranganmu? Percaya deh, kalau ada satu hal yang paling aku tahu tentang Tuhan—itu adalah bahwa ada berkat yang luar biasa besar yang sudah menanti di balik ketaatanmu.

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.