• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 10 Apr 2026

Bisakah kamu melepaskan kendali?

Tanggal publikasi 10 Apr 2026

Ada begitu banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Dan kamu juga tahu itu. Entah kamu punya bisnis sendiri atau bekerja untuk orang lain, entah kamu single atau sudah menikah—banyak hal dalam hidup ini memang di luar kendali kita.

Sering banget aku dengar orang berkata, “Aku HARUS melakukan ini sekarang,” atau “Debbie, kalau aku nggak menyelesaikan ini, semuanya akan berantakan.” Dan yang aku lihat dari luar, orang-orang ini—di bawah tekanan karena mencoba mengendalikan semuanya SENDIRI, mencoba menyelamatkan semuanya—justru malah hancur karena tekanan itu. 😟

Daud, yang juga terus-menerus menghadapi tekanan besar dan sebagai raja atas seluruh bangsa, mengatakan sesuatu dalam Kitab Mazmur 131 yang benar-benar berbicara kepadaku:

“...aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada Tuhan hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya! (Mazmur 131:1–3 TB)

Dalam budaya dan bahasa Ibrani, jiwa sering dianggap sebagai tempat emosi dan pergumulan batin. Jadi ketika Daud menulis bahwa dia telah menenangkan jiwanya, dia menunjukkan bagaimana dia menemukan damai—bukan dengan mengejar hal-hal di luar kendalinya.

Di sini, Daud menggambarkan seperti seorang anak yang sudah disapih yang duduk dengan tenang dan puas di pangkuan ibunya. Anak yang sudah disapih itu sudah belajar untuk tidak lagi menuntut untuk disusui, tapi menemukan damai dan rasa aman hanya dengan berada dekat ibunya.

Dan itulah posisi hidup Raja Daud yang luar biasa ini. Dia belajar melepaskan keinginan dan kebutuhan manusiawinya—terutama kebutuhan untuk mengendalikan segalanya—dan membawa jiwanya masuk dalam ketenangan dengan mempercayakan diri pada pemeliharaan Tuhan, bukan pada kekuatan atau hikmatnya sendiri. Kuat banget!

Apa yang bisa kita pelajari dari ini? Melepaskan kendali berarti memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja! 🤯

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.