Bisakah kamu memberi lebih banyak bobot pada janji-janji Tuhan? ๐
Kalau aku membangun hidupku di atas perasaan dan pikiranku sendiri… tolong! Jujur aja, aku nggak tahu sekarang aku bakal jadi seperti apa. Atau kalau aku membangun masa depanku berdasarkan pikiran dan perasaanku, itu pasti sudah jadi bencana besar!
Pikiranku nggak selalu baik. Kamu pasti juga tahu itu dari hidupmu sendiri. Tapi, apa sih pikiran Tuhan tentang kamu?
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11, TB)
Bolehkah aku bertanya sesuatu? Bagaimana kalau kamu memberi lebih banyak bobot pada firman Tuhan yang Dia sampaikan secara pribadi kepadamu, dibandingkan dengan pikiranmu sendiri?
Ada beberapa masa dalam hidupku ketika aku merasa sudah kehilangan segalanya. Salah satunya di tahun 2017, ketika pria yang waktu itu aku cintai tiba-tiba meninggalkanku, dia bukan hanya meninggalkan aku dengan hati yang hancur, tapi juga dengan depresi yang berat. Saat aku terus-menerus memikirkan semua yang hilang—mulai dari mimpi pernikahan, musikku, pekerjaanku, sampai teman-teman—keadaanku justru makin memburuk.
Kalau aku terus menatap ke arah itu, aku pasti sudah benar-benar hancur. Tapi dengan sisa kekuatan yang aku punya—meski terlambat, tapi masih tepat waktu—aku memutuskan untuk memberi lebih banyak bobot pada firman Tuhan daripada pikiranku sendiri! Dia berkata bahwa Dia akan memberiku masa depan dan harapan lagi!
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23, TB)
Kadang menerapkan ayat ini rasanya seperti ikut olahraga tingkat tinggi, tapi aku bisa jamin… seperti olahraga apa pun, setelahnya kamu akan merasa luar biasa!
Aku mau menyemangati kamu… mulai hari ini! Pilih lagi untuk memberi janji Tuhan tentang harapan dan masa depan lebih besar bobotnya daripada kata-katamu sendiri, meskipun kamu merasa semuanya sudah terlambat. Terlambat itu masih tepat waktu bagi Tuhan!
Kamu adalah mujizat-Nya yang nyata!