• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 25 Jan 2026

Di bagian mana dalam hidupmu kamu memilih setengah-setengah saja?

Tanggal publikasi 25 Jan 2026

Oh, aku tuh senang banget kalau lagi ada Piala Eropa atau Piala Dunia! Aku bisa ikut terbawa suasananya! Aku suka pakai jersey dan posting soal itu. Secara nggak langsung, itu menyampaikan pesan: “Debbie DUKUNG Jerman.”

Tapi di sisi lain, aku juga suka Prancis dan sama-sama bisa ikut merayakan kemenangan negara lain. Namun, begitu aku secara “resmi” menyatakan dukungan ke Jerman, orang lain langsung menganggap aku pasti “melawan” negara mereka. Serba salah, ya…

Tuhan itu sangat jelas:

Dia mau kita MENGASIHI SEMUA ORANG, tapi hanya MENYEMBAH SATU TUHAN saja. Dia!

Menarik sekali—bahkan menyenangkan—melihat bagaimana Elia, yang sendirian, dengan berani mengejek 450 nabi Baal dan berkata:

“Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: ”Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.”" (1 Raja-raja 18:27 TB)

Kamu tahu, nabi-nabi Baal itu sebenarnya tidak menentang Tuhan, tapi mereka juga mendukung allah-allah lain. Dan sikap setengah-setengah seperti itu tidak pernah jadi sikap yang utuh.

Itu seperti berdoa tapi sebenarnya tidak percaya bahwa doa itu membawa perubahan.

Seperti memaksa diri datang ke malam doa di gereja cuma supaya kewajiban terpenuhi—tanpa benar-benar terlibat dengan hati.

Seperti pergi ke gereja hanya supaya kelihatan datang, bukan dengan kesadaran masuk ke “rumah Tuhan” karena rindu berjumpa dengan Yang Mahatinggi.

Hari ini adalah kesempatan yang baik untuk merenungkan alasan di balik apa yang kamu lakukan.

Apakah kamu berdoa karena sudah jadi kebiasaan, atau karena kamu sungguh menyadari betapa besar dan agungnya Tuhan?

Apakah kamu ke gereja karena ingin berjumpa dengan Tuhanmu yang besar—atau cuma karena teman-temanmu?

Ini layak untuk dipikirkan, dan untuk dengan sadar kembali memberikan PERHATIAN SEPENUHNYA kita kepada Tuhan yang besar itu.

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.