• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
    • VI Vietnamese
Tanggal publikasi 4 Sep 2026

Faith Beyond Feelings

Tanggal publikasi 4 Sep 2026

“Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat.” - 2 Korintus 5:7

Ada masa ketika kita berdoa dan rasanya Tuhan dekat. Lagu rohani terasa menyentuh. Firman terasa hidup. Kita merasa dikasihi Tuhan. Tapi ada juga hari ketika semua rutinitas rohani terasa kosong. Di sinilah kita perlu memahami: Iman Kristen tidak dibangun di atas apa yang kita rasakan.

Alkitab tidak mengajarkan kita untuk mengabaikan perasaan. Daud pernah merasa ditinggalkan. Yeremia pernah menangis. Ayub pernah mempertanyakan Tuhan. Bahkan Yesus sendiri menangis. Jadi merasakan Tuhan jauh tidak berdosa. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjadikan perasaan sebagai otoritas terakhir tentang siapa Allah.

Salah satu contoh yang dapat menjadi pelajaran untuk kita adalah ketika Thomas tidak mau percaya sebelum ada pembuktian sebagai validasi dari perasaannya (Yohanes 20).

Thomas berkata bahwa ia tidak akan percaya sebelum melihat dan menyentuh luka Yesus. Kemudian Yesus datang. Thomas akhirnya berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Lalu Yesus berkata, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Iman tidak harus menunggu sampai semua hal terlihat. Karena kalau kita hanya mau percaya ketika semuanya terlihat jelas… itu bukan lagi iman. Jadi apa yang harus kita lakukan ketika kita tidak merasakan Tuhan? Kita perlu kembali kepada Firman Tuhan. Saat perasaan kita berkata, “Tuhan meninggalkanku”, kita kembali melihat janji Allah dalam Alkitab yang berkata: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau.” (Ibrani 13:5). Biarkan Firman Tuhan menopang imanmu.

Kalau mungkin hari ini kamu tidak merasakan Tuhan. Tidak apa-apa. Datanglah kepada-Nya bukan berdasarkan apa yang kamu rasakan, tetapi berdasarkan apa yang Dia sudah janjikan.

Karena iman bukan berarti selalu merasa kuat.

Iman berarti, “Sekalipun aku tidak melihat, aku tetap percaya. Sekalipun aku tidak merasa, aku tetap berpegang. Sekalipun aku belum mengerti, aku tetap percaya kepada Dia.”

Karena pada akhirnya...perasaan kita berubah. Keadaan kita berubah. Tetapi Kristus tidak berubah. Iman tidak melihat kepada apa yang kita rasakan, tetapi kepada siapa yang kita percaya.

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.