Gimana Kalau Tuhan Bilang “Gak”?
Kalau boleh memilih, kita pasti pengen semua doa dijawab dengan “iya”. “Tuhan, aku mau masuk kampus ini.” Iya. “Tuhan, aku mau pekerjaan ini.” Iya. “Tuhan, aku mau relationship ini berhasil.” Iya. “Tuhan, tolong masalah ini selesai.” Iya. Tapi makin lama berjalan bersama Tuhan, kita akan sadar bahwa ada doa-doa yang ternyata gak berakhir seperti yang kita harapkan.
Dan ketika itu terjadi, kita mungkin bertanya, “Tuhan, kenapa?” Apalagi kalau yang kita minta sebenarnya bukan sesuatu yang jahat. Kita gak sedang meminta hal aneh. Kita cuma ingin keadaan menjadi lebih baik. Jadi ketika Tuhan gak melakukan apa yang kita minta, rasanya sulit untuk mengerti.
Paulus pernah ada di posisi itu. Di 2 Korintus 12, Paulus bercerita tentang sesuatu yang dia sebut sebagai “duri di dalam daging”. Alkitab gak menjelaskan secara pasti apa duri itu, tapi kita tau satu hal: Paulus sangat ingin hal itu pergi. Bahkan dia gak cuma berdoa sekali.
“Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku.” (2 Korintus 12:8)
Tiga kali Paulus meminta. Tapi Tuhan gak mengangkat duri itu.
Coba bayangin kalau kamu jadi Paulus. Dia seorang rasul. Dia melayani Tuhan, memberitakan Injil, membangun jemaat, dan rela menderita karena Kristus. Kalau ada orang yang doanya layak mendapatkan jawaban “iya”, rasanya Paulus masuk daftar itu. Tapi Tuhan tetap gak memberikan apa yang dia minta.
Sebaliknya, Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9 TB)
Tuhan gak berkata, “Paulus, sebentar lagi Aku angkat masalahmu.” Tuhan juga gak menjelaskan secara detail kenapa duri itu harus tetap ada. Tuhan justru memberikan sesuatu yang mungkin gak Paulus minta: kasih karunia untuk menjalaninya.
Dan mungkin inilah salah satu bagian tersulit dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kadang kita berdoa supaya Tuhan mengubah keadaan, tapi Tuhan malah memberikan kekuatan untuk melewati keadaan itu. Kita minta pintunya dibuka, Tuhan membiarkannya tertutup. Kita minta seseorang tetap tinggal, tapi akhirnya dia pergi. Kita minta diterima, ternyata ditolak. Kita minta masalahnya hilang, tapi besok pagi masalah itu masih ada.
Di situ kita gampang berpikir, “Berarti Tuhan gak denger doaku.” Padahal bisa jadi Tuhan mendengar setiap katanya. Jawabannya saja berbeda dari yang kita inginkan.
Kita perlu belajar bahwa doa bukan cara untuk membuat Tuhan mengikuti rencana kita. Doa adalah tempat kita membawa keinginan kita kepada Tuhan dan belajar mempercayai-Nya, bahkan ketika kehendak-Nya berbeda dari keinginan kita.
Dan itu gak berarti kita harus pura-pura gak kecewa. Paulus sendiri sampai tiga kali meminta durinya diangkat. Jadi kalau ada sesuatu yang sangat kamu inginkan, teruslah berdoa. Ceritakan kepada Tuhan. Minta dengan jujur. Kamu gak perlu berpura-pura bilang, “Aku gak peduli kok, Tuhan,” kalau sebenarnya kamu sangat peduli.
Tapi di tengah doa itu, kita juga perlu belajar memberikan ruang untuk jawaban yang mungkin gak kita inginkan.
Karena iman bukan cuma percaya bahwa Tuhan mampu memberikan apa yang kita minta. Iman juga percaya bahwa Tuhan tetap baik ketika Dia memilih untuk gak memberikannya.
Mungkin hari ini kamu masih menunggu acceptance letter yang gak pernah datang. Kamu masih berharap seseorang berubah pikiran. Kamu masih berdoa supaya satu pintu dibuka. Dan mungkin sampai sekarang Tuhan terasa diam.
Teruslah berdoa. Tapi kalau akhirnya jawaban Tuhan ternyata “gak”, jangan jadikan jawaban itu alasan untuk menjauh dari-Nya.
Paulus akhirnya menemukan bahwa ketika durinya gak diangkat, kasih karunia Tuhan tetap cukup. Situasinya gak berubah seperti yang dia minta, tapi dia menemukan bahwa Tuhan tetap ada di tengah kelemahannya.
Kadang mujizatnya adalah pintu yang akhirnya terbuka. Tapi kadang mujizatnya adalah kamu masih bisa berjalan bersama Tuhan meskipun pintu itu tetap tertutup.
Jadi kalau jawaban Tuhan ternyata berbeda dari yang kamu mau, kamu boleh kecewa. Kamu boleh menangis. Kamu boleh datang lagi kepada-Nya dengan semua pertanyaanmu.
Tapi jangan samakan “Tuhan gak memberikan apa yang aku mau” dengan “Tuhan gak mengasihi aku.”
Karena terkadang jawaban-Nya adalah “iya”. Terkadang “tunggu”, dan terkadang jawabannya memang “gak”.