• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
    • VI Vietnamese
Tanggal publikasi 30 Sep 2026

Kalau Tuhan Tetap Diam

Tanggal publikasi 30 Sep 2026

Selama 1 bulan kita sudah bicara tentang banyak hal. Tentang masa depan yang belum jelas, melihat teman berjalan lebih cepat, kegagalan, relationship, keputusan besar, jawaban Tuhan yang ternyata “gak”, rasa gak cukup, sampai musim ketika kita merasa sendirian. Tapi sekarang ada satu pertanyaan terakhir: “Gimana kalau setelah semua ini Tuhan tetap terasa diam?”

Gimana kalau kamu udah doa tapi keadaan belum berubah? Kamu udah berusaha percaya, tapi masih belum ngerti apa yang Tuhan lakukan. Kamu baca renungan, datang ke gereja, ikut ibadah, bahkan mungkin udah cerita ke orang lain. Tapi ketika pulang dan sendirian lagi, pertanyaan itu masih ada: “Tuhan, Engkau sebenarnya di mana?”

Elia pernah mengalami sesuatu yang mungkin gak jauh berbeda. Di 1 Raja-raja 18, dia baru saja mengalami salah satu momen paling luar biasa dalam hidupnya. Di Gunung Karmel, Elia berdoa dan api Tuhan turun dari langit. Kalau ada orang yang pernah melihat Tuhan bekerja dengan cara yang spektakuler, Elia salah satunya.

Tapi hanya satu pasal kemudian, Elia berubah total.

Izebel mengancam akan membunuhnya. Elia ketakutan, melarikan diri, lalu duduk sendirian di bawah pohon arar. Orang yang baru saja melihat api turun dari langit sekarang berkata kepada Tuhan:

“Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” 1 Raja-raja 19:4

Elia capek. Takut. Sendirian. Dan mungkin yang paling berat, dia merasa semuanya sia-sia.

Tuhan kemudian membawa Elia ke Gunung Horeb. Di sana datang angin besar dan kuat sampai membelah gunung dan memecahkan bukit batu. Tapi Alkitab berkata Tuhan gak ada dalam angin itu. Setelah angin datang gempa. Tuhan juga gak ada dalam gempa. Setelah gempa datang api. Tapi Tuhan juga gak ada dalam api itu.

Lalu datanglah “bunyi angin sepoi-sepoi basa.” (1 Raja-raja 19:12)

Menarik ya. Elia pernah mengenal Tuhan lewat api yang turun dari langit. Tapi kali ini Tuhan menemuinya dalam sesuatu yang jauh lebih tenang.

Mungkin kita juga sering menunggu Tuhan dalam hal-hal besar. Kita ingin doa kita langsung dijawab. Kita ingin pintu terbuka. Kita ingin sebuah sign. Kita ingin datang ke ibadah lalu tiba-tiba mendapatkan jawaban untuk semua pertanyaan kita. Kita ingin Tuhan melakukan sesuatu yang membuat kita bisa berkata, “Nah! Ini baru Tuhan.”

Tapi gimana kalau Tuhan gak selalu datang lewat “api”?

Gimana kalau hari ini Dia sedang bekerja lewat sesuatu yang jauh lebih sederhana? Lewat satu ayat yang kamu baca pagi ini. Lewat teman yang tiba-tiba bertanya apakah kamu baik-baik aja. Lewat pintu yang ternyata tertutup. Lewat kesempatan kecil yang kamu hampir abaikan. Atau bahkan lewat masa hening ketika gak ada sesuatu yang spektakuler terjadi.

Terkadang kita berpikir Tuhan diam karena kita gak mendengar jawaban yang kita harapkan. Padahal mungkin selama ini kita hanya mencari Tuhan dalam satu bentuk tertentu.

Dan ada hal lain yang indah dari cerita Elia. Tuhan gak cuma memberikan Elia sebuah pengalaman rohani, lalu meninggalkannya di gunung. Setelah itu Tuhan memberikan Elia langkah berikutnya. Ada tempat yang harus dia datangi. Ada tugas yang harus dia kerjakan. Bahkan ada Elisa yang nantinya berjalan bersamanya.

Keheningan itu bukan akhir perjalanan Elia.

Mungkin keheningan yang kamu alami sekarang juga bukan akhir ceritamu.

Kamu mungkin masih belum tau apa yang akan terjadi setelah lulus. Masih belum mendapatkan pekerjaan yang kamu doakan. Masih belum menemukan orang yang tepat. Masih kecewa karena satu pintu tertutup. Atau masih membawa satu doa yang bahkan setelah membaca seluruh seri ini belum juga dijawab.

Aku gak mau menutup renungan ini dengan berkata, “Tenang, sebentar lagi Tuhan pasti kasih apa yang kamu mau.” Karena Alkitab gak pernah menjanjikan itu.

Tapi ada sesuatu yang jauh lebih pasti daripada jawaban yang kita inginkan: Tuhan sendiri.

Mungkin besok masalahmu masih ada. Mungkin kamu masih harus menunggu. Mungkin masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Tapi kamu bisa bangun besok pagi dan kembali berkata, “Tuhan, aku masih di sini. Aku mungkin belum ngerti, tapi aku mau tetap berjalan bersama-Mu.”

Karena pada akhirnya, iman bukan kemampuan untuk selalu mendengar Tuhan dengan jelas. Iman adalah tetap mengenal karakter-Nya ketika keadaan kita gak jelas.

Jadi setelah semua yang kita pelajari dalam seri When God Is Silent, mungkin kita gak membutuhkan sebuah kalimat yang menjawab semua pertanyaan kita.

Mungkin kita hanya perlu mengingat ini:

Ketika kamu gak mendapatkan jawaban, Tuhan tetap ada. Ketika kamu gak melihat jalan, Tuhan tetap tau arahnya. Ketika rencanamu gagal, Tuhan tetap memegang hidupmu. Ketika orang lain pergi, Tuhan tetap tinggal. Dan ketika semuanya terasa sunyi, keheningan itu gak pernah berarti kamu ditinggalkan.

Jadi kalau hari ini Tuhan masih terasa diam, jangan berhenti mencari-Nya hanya karena kamu belum mendengar apa yang ingin kamu dengar.

Tetap datang. Tetap doa. Tetap baca Firman-Nya. Tetap berjalan.

Dan mungkin di tengah semua kebisingan hidupmu, kamu akan mulai menyadari:

Dalam hening, Tuhan tetap ada.

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.