Kamu Perlu Doa
Aku mau mulai ini dengan sebuah pernyataan yang berani: Kalau kamu punya kehidupan doa yang sudah sempurna, kamu boleh absen dari seri artikel berikut ini! Kalau kamu adalah tipe orang yang menganggap doa itu gampang banget, kalau pikiranmu bisa terus fokus sepanjang waktu dan gak pernah buyar, kalau kamu bisa berdoa selama satu jam dan malah bertanya-tanya “wah waktu kok cepat banget berlalu, aku masih pengen doa lagi,” atau kalau kamu sudah sangat ahli dalam berbicara dan mendengarkan suara Tuhan, kamu nggak perlu membaca artikel ini, kamu mungkin lebih butuh konseling atau terapi tapi kamu gak butuh artikel ini!
Seri ini ditulis buat kita-kita yang biasa saja. Kalau pikiranmu memang sering buyar saat berdoa, kalau kamu pernah berjuang keras hanya untuk sekadar berbicara dan mendengarkan Tuhan, kalau bayanganmu tentang doa hanyalah sebuah daftar panjang berisi rentetan kebutuhan yang gak ada habisnya, kalau kamu pernah bertanya-tanya, “Kenapa ya Tuhan nggak jawab doaku,” atau kalau kamu pernah benar-benar ragu apakah doa itu sebenarnya berfungsi, maka artikel ini pas banget buat kamu, dan aku pun merasakan hal yang sama persis di sini bersamamu.
Aku punya satu lagi pernyataan yang blak-blakan: Semua orang itu sebenarnya berdoa. Bahkan orang-orang yang mengaku nggak percaya Tuhan pun akan meminta sebuah pertolongan atau mukjizat di masa-masa mereka putus asa. Doa itu sangat dibutuhkan di momen-momen penuh sukacita, momen-momen dengan rasa takut yang luar biasa, saat dihadapkan pada kematian, saat kesedihan terasa begitu menyesakkan, saat rasa malu terasa begitu mengintimidasi, atau ketika kita membutuhkan sesuatu yang berada di luar kendali kita. Di situlah kita merasa perlu untuk berbicara kepada Seseorang atau Sesuatu yang melampaui diri kita sendiri.
Bertahun-tahun lalu, dalam sebuah kelompok kecil yang aku pimpin, ada seorang pria yang nggak pernah sekali pun mau berdoa bersuara. Kamu bisa melihat dari bahasa tubuhnya kalau sesi doa di kelompok kami itu membuat dia merasa sangat terganggu dan nggak nyaman. Dia bakal gelisah diam-diam, dan momen yang paling dia tunggu adalah “amin” saat kami semua selesai berdoa. Setiap kali kami berdoa bergiliran dalam lingkaran, lalu giliran dia tiba, dia pasti akan langsung terdiam. Kami semua akan menunggu, suasana pun menjadi canggung, sampai akhirnya sang pemimpin kelompok menutup doanya dan aku yakin banget pria ini langsung menaikkan doa ucapan syukur dalam hati karena merasa lega!
Aku berharap kamu bisa meluangkan waktu seminggu ke depan untuk belajar bersamaku, dan bersama banyak orang lainnya, tentang betapa kayanya cara kita untuk memperdalam kehidupan doa kita dengan Tuhan, berdasarkan Doa Bapa Kami yang tertulis dalam Matius 6:5-13 (TB).
Tuhan gak pengen apa pun selain mendengar suara dari kita. Kita nggak perlu merasa malu atau canggung, melainkan ketahuilah bahwa setiap hal yang kita bawa ke hadapan-Nya adalah hal yang sangat penting bagi-Nya.
Tuhan begitu mengasihi-Mu dan Dia rindu mendengar suaramu.
Jadi, mari kita masuki minggu ini dengan penuh doa, sambil menantikan hal-hal besar yang akan Tuhan nyatakan dalam hidup kita!
Kamu adalah keajaiban!