Kerendahan Hati dan Pertobatan
Di Matius 6, Yesus mengajarkan dasar-dasar tentang bagaimana berbicara dan mendengarkan Tuhan. Sebagian dari pengajaran-Nya sangat terkenal, tetapi bagian sebelumnya jarang dibahas karena berisi beberapa peringatan. Yesus berkata:
"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." — Matius 6:5 (TB)
Aku harus mengakui, ada saat-saat ketika aku sedang berdoa bersama kelompok doa, tetapi bukannya benar-benar hadir dan menyatukan hati dengan doa para pendeta lainnya, pikiranku justru sibuk memikirkan apa yang akan kuucapkan saat giliranku tiba. Pada saat seperti itu, aku sebenarnya bukan sedang berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi sedang dikuasai kesombongan. Aku ingin teman-temanku menganggapku sebagai orang yang rohani, padahal tanpa sadar aku sudah bergeser ke arah kesombongan.
Melalui ayat ini, aku merasa Yesus sedang berbisik, "Rendahkanlah hatimu." Saat kamu berdoa, hanya ada satu Pribadi yang menjadi tujuanmu—Tuhan. Jadi, berdoalah seperti yang Yesus ajarkan... seperti teladan yang sudah Dia berikan kepadamu.
Baik saat kita berdoa sendirian maupun bersama orang lain, kita memulainya dengan kerendahan hati. Dan kita datang kepada Bapa yang sebenarnya sudah mengetahui setiap kata dan pikiran yang sedang terbentuk di hati kita. Daripada berdoa dengan kesombongan, Yesus menunjukkan jalan yang berbeda—jalan kerendahan hati.
"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." — Matius 6:6 (TB)
Saat membaca ayat ini, mungkin yang langsung terbayang adalah kamar tidur atau dapurmu. Tetapi pada zaman Yesus, satu-satunya ruangan yang memiliki pintu di rumah-rumah saat itu biasanya adalah ruang penyimpanan makanan, barang berharga, dan berbagai persediaan. Ruangan itu sederhana dan rendah hati. Ke sanalah Yesus mengajak kita pergi, supaya suasana yang sederhana itu sejalan dengan sikap hati kita yang rendah di hadapan Raja di atas segala raja.
Yesus mengajak kita untuk berdoa di tempat yang tersembunyi. Namun sering kali kita kesulitan dengan doa yang "tersembunyi" ini karena, setidaknya menurut pengalamanku, saat jawaban doa tidak langsung terlihat, kita mengira tidak ada apa-apa yang sedang terjadi. Kita ingin apa yang kita doakan secara diam-diam langsung menjadi sangat jelas lewat jawaban yang nyata!
Yesus memahami pergumulan itu. Karena itu Dia melanjutkan pengajaran-Nya:
"Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya." — Matius 6:7–8 (TB)
Menurut Yesus, doa yang efektif tidak diukur dari banyaknya kata-kata atau indahnya cara kita berbicara. Kita tidak bisa memaksa Tuhan melakukan keinginan kita hanya dengan kata-kata yang terdengar hebat. "Jangan seperti mereka," kata Yesus, karena Bapamu sudah mengetahui semua yang kamu perlukan. Bahkan ketika kamu belum melihat jawabannya, Dia tetap sedang bekerja untuk mendatangkan yang terbaik bagimu.
Setelah memberikan semua peringatan itu, Yesus lalu memberikan sebuah hadiah yang luar biasa. Tuhan sendiri memberikan kepada kita kata-kata untuk berbicara kepada-Nya. Mari kita menenangkan hati kita dan mengucapkan doa ini bersama-sama.
"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." — Matius 6:9–13 (TB)
Ada kuasa di dalam doa yang baru saja kamu ucapkan—kuasa yang dapat membuka pintu bagi mukjizat, baik di dalam hidupmu maupun melalui hidupmu.