Kok Aku Ngerasa Sendirian?
Ada satu fase dalam hidup ketika kita mulai sadar bahwa pertemanan ternyata bisa berubah. Teman SMA yang dulu tiap hari bareng mulai punya kesibukan sendiri. Masuk kuliah, circle berubah lagi. Lulus kuliah, semua mulai kerja di tempat yang berbeda. Teman yang dulu kita pikir akan selalu dekat perlahan jarang ngobrol. Kadang gak ada masalah apa-apa, gak berantem juga. Hidup cuma... berjalan ke arah yang berbeda.
Dan anehnya, kita bisa punya banyak teman, banyak followers, masuk banyak group chat, tapi tetap merasa sendirian.
Di masa seperti itu kita mungkin berdoa, “Tuhan, aku butuh seseorang yang ngerti aku.” Tapi Tuhan terasa diam. Gak tiba-tiba muncul sahabat baru. Orang yang kita harapkan tetap tinggal malah pergi. Bahkan ketika kita cerita ke orang lain, rasanya mereka gak benar-benar ngerti apa yang sedang kita rasakan.
Daud pernah melewati musim hidup seperti itu. Setelah mengalahkan Goliat, hidupnya berubah drastis. Awalnya dia disukai banyak orang, bahkan dipuji karena keberhasilannya. Tapi popularitas Daud membuat Saul iri. Orang yang seharusnya menjadi rajanya justru mulai melihat Daud sebagai ancaman. Saul bahkan beberapa kali mencoba membunuh Daud.
Di tengah situasi itu, Tuhan memberikan seseorang dalam hidup Daud: Yonatan. Yang menarik, Yonatan adalah anak Saul sendiri. Secara manusia, Yonatan punya banyak alasan untuk melihat Daud sebagai saingan. Kalau Daud menjadi raja, Yonatan bisa kehilangan kesempatan untuk meneruskan posisi ayahnya. Tapi justru Yonatan menjadi salah satu orang yang paling setia mendukung Daud.
Ketika Saul ingin membunuh Daud, Yonatan memperingatkannya. Bahkan ketika Daud harus melarikan diri, Yonatan tetap datang kepadanya.
“Maka bersiaplah Yonatan, anak Saul, lalu pergi kepada Daud di Hores. Ia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah.” 1 Samuel 23:16
Ada sesuatu yang indah dari ayat ini. Yonatan gak datang untuk menyelesaikan semua masalah Daud. Dia gak bisa langsung membuat Saul berhenti mengejarnya. Dia juga gak punya jawaban untuk semua yang Daud alami. Yonatan melakukan sesuatu yang sederhana: dia menguatkan kepercayaan Daud kepada Allah.
Mungkin selama ini kita punya standar pertemanan yang berbeda. Kita mencari teman yang selalu ada buat nongkrong, punya selera musik yang sama, humor yang sama, atau orang yang selalu membalas chat dengan cepat. Semua itu menyenangkan. Tapi ada jenis teman yang jauh lebih berharga: seseorang yang ketika hidup kita mulai berantakan, membantu kita kembali melihat Tuhan.
Teman yang bisa berkata, “Gue gak tau kenapa ini terjadi, tapi gue mau doa bareng lo.” Teman yang berani mengingatkan ketika kita mulai mengambil keputusan yang salah. Teman yang gak cuma mengatakan apa yang ingin kita dengar, tapi membawa kita kembali kepada kebenaran.
Dan mungkin hari ini kamu sedang merasa gak punya orang seperti itu.
Kalau iya, jangan langsung berpikir Tuhan gak peduli. Kadang Tuhan menjawab kesepian kita dengan membawa orang yang tepat. Tapi ada juga musim ketika circle kita memang menjadi lebih kecil dan Tuhan menggunakan musim itu untuk menarik kita lebih dekat kepada-Nya.
Daud sendiri mengalami banyak waktu ketika dia harus bersembunyi dan melarikan diri. Ada saat ketika manusia gak bisa memberikan keamanan yang dia butuhkan. Di tengah keadaan itu, Daud belajar berkata:
“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.” Mazmur 62:2
Kita membutuhkan orang lain. Tuhan memang menciptakan kita untuk hidup dalam komunitas. Jadi merasa kesepian bukan berarti kamu kurang rohani. Tapi ada tempat dalam hati kita yang bahkan sahabat terbaik sekalipun gak bisa isi.
Karena manusia bisa berubah. Teman bisa pindah. Circle bisa berganti. Orang yang dulu dekat bisa menjadi jauh. Dan kalau seluruh rasa aman kita bergantung pada siapa yang masih ada di sekitar kita, setiap kali seseorang pergi kita akan merasa kehilangan arah.
Mungkin sekarang Tuhan terasa diam karena kamu sedang kehilangan beberapa orang dalam hidupmu. Kamu bertanya, “Tuhan, kenapa sekarang aku sendirian?” Aku gak tau kapan Tuhan akan membawa orang baru ke dalam hidupmu. Tapi sambil menunggu, jangan tutup dirimu. Tetap bangun komunitas. Berani mulai percakapan. Jadilah teman yang baik juga untuk orang lain. Dan yang paling penting, jangan berhenti datang kepada Tuhan hanya karena kamu merasa gak ada yang mengerti.
Yonatan adalah hadiah besar dalam hidup Daud. Tapi Yonatan bukan sumber kekuatan Daud. Yonatan justru membantu Daud kembali kepada sumber kekuatannya: Tuhan.
Mungkin itu juga jenis pertemanan yang perlu kita cari dan belajar untuk menjadi. Teman yang gak cuma berkata, “Aku ada buat kamu,” tapi juga mengingatkan, “Tuhan masih ada buat kamu.”
Karena ada musim ketika hidup memang terasa lebih sepi dari biasanya.
Tapi sepi bukan berarti sendiri.