Kok Hidup Temanku Lebih Cepat?
Pernah gak kamu buka Instagram atau LinkedIn cuma niat scroll sebentar, tapi setelahnya malah merasa hidupmu ketinggalan? Temanmu keterima di universitas yang dia mau. Yang lain dapat beasiswa. Ada yang baru lulus langsung dapat kerja. Ada yang kariernya mulai naik. Ada juga yang relationship-nya kelihatan bahagia banget. Awalnya kita ikut senang, tapi lama-lama muncul satu pertanyaan kecil di dalam hati: “Tuhan, kok dia udah sampai sana, sementara aku masih di sini?”
Comparison memang aneh. Hidup kita sebenarnya baik-baik aja, sampai kita melihat hidup orang lain. Tiba-tiba apa yang kita punya terasa kurang. Kita mulai menghitung umur, pencapaian, gaji, nilai, followers, relationship, bahkan kehidupan rohani. Yang lebih bahaya, kita mulai memakai hidup orang lain sebagai standar untuk menilai apakah Tuhan baik kepada kita atau gak.
Ternyata Petrus juga pernah melakukan sesuatu yang mirip. Di Yohanes 21, Petrus baru aja mengalami percakapan yang sangat personal dengan Yesus. Setelah sebelumnya menyangkal Yesus tiga kali, sekarang Yesus memulihkan Petrus dan memberikan panggilan kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Yesus bahkan memberitahu Petrus bahwa mengikuti-Nya suatu hari akan membawa Petrus kepada jalan yang gak mudah.
Tapi setelah percakapan yang begitu dalam itu, Petrus menoleh dan melihat Yohanes. Lalu dia bertanya kepada Yesus, “Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?” (Yohanes 21:21 TB). Basically, Petrus seperti berkata, “Okay Tuhan, aku ngerti bagian hidupku. Tapi kalau dia gimana?”
Dan jawaban Yesus cukup tegas: “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.” Yesus gak menjelaskan rencana-Nya untuk Yohanes kepada Petrus. Dia membawa perhatian Petrus kembali kepada satu hal yang jauh lebih penting: “Engkau, ikutlah Aku.”
Kadang kita juga seperti Petrus. “Tuhan, kenapa dia dapat kesempatan itu?” “Kenapa dia keterima sementara aku gak?” “Kenapa dia udah punya pasangan?” “Kenapa hidup dia kayaknya lebih gampang?” Bahkan mungkin, “Tuhan, aku udah doa dari lama. Kok dia yang baru doa malah dapat duluan?”
Saat Tuhan terasa diam tentang hidup kita, melihat orang lain maju bisa membuat keheningan itu terasa jauh lebih berat. Kita mulai berpikir mungkin Tuhan lupa. Mungkin kita kurang berdoa. Mungkin Tuhan lebih sayang sama mereka. Padahal berkat Tuhan dalam hidup orang lain bukan bukti bahwa Tuhan mengabaikan hidupmu.
Yesus gak memberikan Petrus dan Yohanes cerita yang sama. Panggilan mereka berbeda, perjalanan mereka berbeda, dan cara mereka memuliakan Tuhan juga berbeda. Tapi keduanya tetap dipanggil untuk hal yang sama: mengikuti Yesus.
Begitu juga dengan kita. Temanmu mungkin sudah tau mau jadi apa, sementara kamu masih mencari. Dia mungkin dapat pekerjaan di umur 22, kamu baru dapat di umur 24. Ada yang menemukan pasangan lebih cepat, ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang langsung berhasil di kesempatan pertama, ada yang harus gagal berkali-kali. Beda timeline bukan berarti salah timeline.
Dan mungkin masalahnya bukan Tuhan gak menjawab kita. Bisa jadi kita terlalu sibuk melihat jawaban Tuhan untuk orang lain sampai gak melihat apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidup kita sendiri.
Hari ini, coba berhenti sebentar dari pertanyaan, “Tuhan, kenapa dia?” dan mulai bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau mau aku lakukan?” Karena kamu gak dipanggil untuk menjalani hidup temanmu. Kamu juga gak perlu mengejar semua hal yang mereka punya.
Yesus hanya meminta satu hal dari Petrus, dan Dia masih meminta hal yang sama dari kita hari ini:
“Engkau: ikutlah Aku.”
Jadi kalau Tuhan terasa diam sementara semua orang di sekitarmu kelihatannya sedang bergerak maju, jangan buru-buru berpikir kamu tertinggal.
Jalanmu mungkin beda. Tapi selama kamu mengikuti Yesus, kamu gak salah arah.