• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 19 Jun 2026

Lakukan saja, meski sedang kecewa

Tanggal publikasi 19 Jun 2026

Kamu masih punya gairah buat berbuat baik kepada orang lain nggak sih?

Baru-baru ini, aku sempat merasa kecewa berat sama sesama orang percaya, sampai-sampai aku harus bertanya pada diriku sendiri: “Gimana caranya ya biar aku bisa dapetin lagi sukacita untuk memberi, menolong, dan mempercayai orang meskipun hatiku lagi terluka?”

Mungkin kamu juga pernah merasakannya: Kamu sudah memberikan yang terbaik waktumu, kasihmu, bahkan mungkin uangmu buat orang lain. Tapi balasan yang kamu terima malah penolakan, salah paham, atau bahkan nggak dihargai sama sekali. Lama-lama, kamu jadi malas dan capek sendiri. Mau percaya lagi pun rasanya susah banget.

Tapi kemudian, aku menemukan satu ayat yang menceritakan tentang Yesus: “Sama seperti Ia senantiasa mengasihi murid-murid-Nya yang di dunia ini, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.” (Yohanes 13:1, TB)

Yesus tau (ya, bahkan sejak awal!): Salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya. Yang lain akan menyangkal-Nya. Dan sisanya akan meninggalkan-Nya sendirian.

Namun luar biasanya... “Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu.” (Yohanes 13:4-5, TB)

Yesus tetap bangkit, meskipun ada rasa kecewa. Kalau kita yang ada di posisi itu, kita pasti bakal tetap milih duduk diam, kan? Tapi Dia malah mengikatkan kain di pinggang-Nya, meskipun sedang kecewa.

Ini punya makna yang dalam banget! Di zaman itu, membasuh kaki adalah tugas pelayan atau budak yang paling rendah di rumah. Seorang guru agama atau rabi seperti Yesus nggak akan pernah mau membasuh kaki orang lain, karena itu dianggap merendahkan harga diri-Nya.

Tapi Yesus tetap melakukannya, meski sedang kecewa.

Kenapa?

Karena kasih-Nya nggak bergantung pada sikap orang lain kepadanya. Karena Dia nggak bertindak berdasarkan rasa sakit hati, melainkan berdasarkan identitas-Nya. Yesus tahu persis siapa diri-Nya, dan milik siapa diri-Nya:

“Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.” (Yohanes 13:3, TB)

Hal ini bener-bener menembus lubuk hatiku yang paling dalam.

Kalau aku tahu bahwa semua yang aku miliki berasal dari Tuhan dan bahwa aku adalah milik-Nya maka aku nggak perlu lagi membiarkan rasa kecewa membuatku lumpuh dan berhenti melangkah.

Aku nggak lagi bertanya: "Seberapa parah sih rasa sakit ini?"

Sebaliknya, aku akan bertanya: "Sudah seberapa sering Tuhan menopang dan menggendong hidupku?"

Yuk bangkit tegak berdiri, karena Yesus pun nggak akan memilih untuk tetap duduk diam!

Bangkitlah terlepas dari semua rasa kecewa itu dan alami titik balik dalam hidupmu. Kembali rasakan sukacita. Kembali belajar mempercayai. Kembali berjalan dalam kehendak Yesus bagi hidupmu.

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.