• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 17 Agt 2026

MERDEKAAAAA!! Yes.

Tanggal publikasi 17 Agt 2026
Pagi itu aku membuka lembaran-lembaran Alkitab dan berhenti di kitab Hakim-Hakim. Kutemukan disana sebuah kisah dari seorang tokoh kuat bernama Gideon. Di pasal 6:12 dikatakan, "Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, 'TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” Terpikir olehku, betapa indahnya penilaian Tuhan terhadap seorang Gideon yang pada saat itu merasa ‘kecil’ dan tidak berdaya. Gideon menjawab di ayat 15, “...kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan aku pun seorang muda di antara kaum keluargaku.” – Gideon yang insecure disebut gagah dan berani bahkan sebelum Gideon dapat membuktikan apapun buat Tuhan. 

Saat aku berdoa mengakhiri saat teduhku, Tuhan mengingatkan... “I HAVE LOVED YOU EVEN BEFORE YOU COULD DO ANYTHING FOR ME!” (Aku mengasihimu bahkan sebelum kamu bisa melakukan apa-apa buat Aku.) Aku diberkati, aku dikuatkan.

Hidup sebagai anak pertama, begitu banyak beban diletakkan di pundakku. Seolah-olah aku harus selalu kuat, selalu mampu dan bertanggung jawab. Tanpa aku sadari, aku tumbuh dengan keyakinan bahwa aku harus menjadi yang terbaik, yang tercepat dan yang paling bisa diandalkan. Seringkali aku terjebak dalam lingkaran validasi manusia, dimana aku hidup untuk terus-terusan membuktikan bahwa aku cukup. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Bagaimana lagi aku harus melakukannya? Aku mengukur diriku dari apa yang sudah dan akan aku capai. Bahkan dalam pelayanan, aku selalu merasa kurang.  Namun, ayat-ayat yang aku baca pagi itu menegur aku seolah berkata, “Stop! You are enough” Tuhan memandang aku sempurna, sama seperti bagaimana Tuhan melihat Gideon yang merasa “kurang”. Ketika Tuhan bicara, Dia menyatakan potensi Gideon bukan memperbesar kelemahannya. Tuhan fokus melihat masa depan, bukan masa lalunya. Dia yang menciptakan Gideon juga menciptakan aku. Maka aku percaya, Tuhan yang meletakkan misi, talenta dan tujuan hidup didalamku, mengenal aku lebih dari aku mengenal diriku sendiri.

Alkitab juga berkata di Wahyu 22:13, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.” Kenapa aku harus kuatir? Bukan saja Dia menciptakan dan mengenal aku, Dia juga Allah yang mengetahui akhir dari sebuah awal. Dia melihat hidupku secara keseluruhan, ketika aku hanya bisa melihat sebagian.

Sejak saat itu aku belajar melihat diriku bukan dari kacamata manusia. Tapi dari bagaimana Tuhan memandang aku dan siapa aku di dalam Tuhan. Nilaiku bukan diukur dari kesukesan atau kegagalanku. Kemampuan atau kelemahanku. Pencapaian atau kekalahanku. Aku sadar bahwa penilaian orang bersifat sementara dan berubah-ubah. Namun, penilaian Tuhan terhadapku tulus, tetap, dan paling valid.

Pada akhirnya, setiap hal yang aku lakukan buat Tuhan, aku lakukan sebagai ekspresi syukurku atas kasih-Nya yang besar dan cukup buat aku.  Buah-buah baik yang aku hasilkan dalam hidup, adalah ucapan terimakasih yang setiap hari aku letakkan di Altar-Nya melalui perkataanku, penghasilanku dan caraku memandang manusia lain. Seiring berjalannya waktu aku belajar memberikan yang terbaik, bukan untuk tepuk tangan dunia, tapi karena aku sadar kasih-Nya bukan saja tanpa syarat tapi juga tanpa cela.

Standar kebaikan dan anugerah-Nya yang begitu tinggi, membuat aku berpikir setiap hari, “Bagaimana ya Tuhan cara aku membalas semua ini?” Jelas tidak dapat aku lakukan dengan kekuatanku sendiri, tapi cukup rendah hati, jangan sampai rendah diri.  Lewat kasih dan penyertaan Tuhan, aku dimampukan menjalani panggilan yang Dia percayakan. Setiap kali aku merasa insecure seperti Gideon, aku mengingatkan diriku sendiri: as much as I believe in Him, He believes in me.

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.