Orang yang bijak melihat bahaya lalu mencari perlindungan
Di dalam buku Be Worth It (ditulis dalam bahasa Jerman), diceritakan tentang sebuah pertemuan di selatan Perancis yang sebenarnya bisa saja langsung menghancurkan kemampuan penulis untuk tetap bertahan di jalur yang benar. Hari ini aku ingin membagikan cerita ini kepadamu. Aku berdoa semoga ini bisa menolongmu, apalagi kalau saat ini ada sesuatu yang mengancammu, sesuatu dalam hidupmu yang bisa membahayakan ketekunanmu—dan pada akhirnya, dirimu sendiri.
Penulis selalu tersenyum setiap kali pergi ke sebuah gym tertentu di selatan Prancis, karena kebanyakan yang duduk di alat-alat olahraga justru ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah lanjut usia dan mereka cuma mengobrol. Sambil itu mereka minum kopi bareng dan makan kue! Tapi justru itu yang penulis suka… suasananya santai dan nggak kaku.
Di situasi seperti itu, karena si penulis berbeda dari para lansia yang memang tidak berniat olahraga, orang-orang jadi memperhatikan dia… termasuk pemilik gym yang masih muda, bertubuh atletis, dan setiap hari mengajakku minum di tepi laut. Tapi seluruh batinku berteriak, “Bahaya! Bahaya!” Di buku itu ada banyak detail gila lainnya, tapi singkatnya, pada akhirnya dia harus membuka matanya sendiri—dan itu sebuah pilihan!—untuk menyadari, “Ada seseorang di sini yang sangat ingin menjatuhkanku supaya buku ini tidak pernah terbit.”
Alkitab berkata, “Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.” (Amsal 22:3)
Mungkin kamu tidak merasa terlalu bijak atau berpengalaman, tapi kamu tetap punya kesempatan untuk meminta nasihat dari Tuhan! Ayat berikutnya berkata, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan.” (Amsal 22:4)
Setahun kemudian, dia bertemu lagi dengan pemilik gym itu. Dia benar-benar hancur karena kelakuannya dengan banyak perempuan telah merusak hubungan-hubungannya. Itu jadi bukti nyata tentang apa yang terjadi ketika kita memilih untuk tidak hidup dalam integritas dan kesetiaan kepada Tuhan dan sesama.
Barulah saat itu kami bisa benar-benar berbicara, karena sekarang dia mau mendengarkan. Dia siap mendengar alasan kenapa dulu aku menolaknya, dan kenapa imanku jauh lebih penting bagiku. Dia siap menerima kebenaran dan membiarkannya masuk ke dalam hidupnya.
Keteguhanmu melindungi hidupmu, dan itu juga bisa menjadi berkat bagi orang lain.
Teruslah bertekun dalam kepercayaan dan imanmu kepada Yesus!
Kamu adalah mujizat-Nya yang nyata!