PAIN IS REAL. AND GOD STILL THERE.
Rasa sakit itu nyata. Dan jujur aja, kadang kita mikirnya gini:
“Kalau Tuhan itu adil, harusnya orang baik lebih sedikit sakitnya.”
“At least yang kerja buat Tuhan dong, dikasih privilege.”
Misionaris. Pendeta. Pelayan Tuhan. Bukannya mereka di ‘VIP list’ surga?
Tapi ternyata… nggak.
Paulus — salah satu rasul terbesar — hidupnya literally chaos.
Dipenjara. Dipukuli. Dicambuk. Dilempari batu. Kapal karam. Kelaparan. Kurang tidur. Dikejar orang. Difitnah. Sendirian. (2 Korintus 11:23–29)
Dan itu belum cukup. Dia juga punya “duri dalam daging.”
Sesuatu yang dia bilang seperti utusan Setan yang menyiksa dia. (2 Korintus 12:7) Kedengarannya brutal, kan?
Jadi clearly, melayani Tuhan bukan berarti kebal rasa sakit. Rasa sakit bukan tanda Tuhan nggak sayang. Dan bukan berarti iman kita kurang. Rasa sakit juga bukan hukuman.
Kadang itu tempat di mana kita paling sadar kita butuh Tuhan.
Inget nggak? Paulus tiga kali minta dilepasin. Tapi jawab Tuhan bukan nyembuhin dia secara instan. Jawabannya Tuhan begini:
"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab kuasa-Ku menjadi sempurna dalam kelemahan.” (2 Korintus 12:9)
Tuhan ingetin, kalau kekuatan Tuhan justru paling kelihatan waktu kita nggak kuat. Jadi kalau kamu lagi sakit — fisik, mental, finansial, emosional — itu nggak otomatis berarti Tuhan ninggalin kamu. Kadang justru di situ Dia paling dekat.
Pain is real.But so is His grace.