Pemeliharaan Tuhan yang Sempurna
Hari ini kita akan membahas tentang roti! Aku harus mengakui bahwa aku memang punya kelemahan soal roti. Aku suka sekali aroma, rasa, dan tekstur roti yang masih hangat. Wah, baru menulis kalimat ini saja aku sudah mulai lapar!
Di bagian ini, Doa Bapa Kami membawa kita kepada kebutuhan yang sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari.
"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya."
Aku sangat menyukai bagian ini, terutama kata "hari ini." Hidup dijalani satu hari demi satu hari. Artinya, sisa hidupku selalu dimulai dari hari ini.
Betapa indahnya doa ini:
"Tuhan, berikan aku hari ini apa yang kubutuhkan untuk hari ini saja. Di dalam firman-Mu Engkau berkata supaya aku tidak khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kesusahannya sendiri. Jadi Tuhan, tolong aku untuk fokus pada hari ini, sementara Engkau menyediakan semua yang kubutuhkan. Aku memilih untuk mempercayai-Mu atas pemeliharaan-Mu hari ini... dan itu sudah lebih dari cukup."
Menurut sebuah survei, kebanyakan orang menganggap berdoa sebelum makan adalah hal yang baik. Kita mengucapkan doa syukur untuk berterima kasih kepada Tuhan atas makanan yang kita terima.
Namun, G.K. Chesterton mengatakan bahwa kita seharusnya lebih sering mengucapkan doa syukur. Ia berkata:
"Kamu mengucapkan doa syukur sebelum makan. Baiklah. Tapi aku juga mengucapkan doa syukur sebelum konser, opera, pertunjukan teater, membaca buku, menggambar, melukis, berenang, bermain anggar, bertinju, berjalan, bermain, menari, bahkan sebelum mencelupkan pena ke dalam tinta."
Amin!
Tuhan akan menyediakan semua yang kamu butuhkan hari ini, dari kekayaan-Nya yang mulia dan tidak pernah habis, yang hanya ada di dalam Kristus Yesus.
Lalu doa itu berlanjut:
"Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami."
Pertobatan dan pengakuan dosa adalah bagian yang sangat penting dalam kehidupan doa yang penuh kuasa. Meminta pengampunan kepada Tuhan, sambil mengampuni orang yang membutuhkan pengampunan dari kita, juga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan doa yang penuh kuasa.
Keduanya berjalan berdampingan.
Menerima pengampunan dari Tuhan, lalu memberikan pengampunan kepada orang lain dengan mengikuti teladan Yesus, membuat doa kita tetap rendah hati dan terbuka bagi karya Tuhan. Kita adalah orang-orang yang sudah diampuni. Karena itu, kita pun tidak menahan kasih karunia itu untuk diri sendiri—kita mengampuni.
Ini adalah saat yang tepat untuk bertanya kepada Tuhan, "Apakah ada bagian dalam hidupku yang perlu kubereskan? Apakah ada seseorang yang perlu kumintai maaf? Atau ada penghakiman yang perlu kulepaskan?"
Kenapa hal itu begitu penting bagi kehidupan doaku? Karena aku tidak bisa terus berpegang pada pengampunan Tuhan sambil tetap menolak mengampuni orang lain. Itu tidak akan berhasil. Hati yang tidak mau mengampuni akan menghalangi doa-doa kita.
Hari ini, luangkanlah waktu sejenak untuk meminta pengampunan dan juga memberikan pengampunan. Biarkan kasih karunia Tuhan menjamah hatimu saat kamu berdoa:
"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." — Matius 6:9–13 (TB)