Pengkhianatan Yudas
Hello sahabat! Hari ini kamu akan membaca sebuah tulisan dari penulis kami di Amerika, bernama Grant. Selamat menikmati ceritanya ya :)
Laurel dan saya (Grant) baru saja mengganti setiap lampu di rumah kami. Setelah hampir 20 tahun, banyak lampu lama kami mulai rusak dan sudah waktunya diganti. Sungguh sebuah transformasi! Rumah kami berubah dari “kuning dan redup” menjadi “terang dan penuh sukacita.” Kecerahannya membuat semua kekacauan, debu, dan pembersihan menjadi sangat sepadan!
Hari ini, saya ingin berbagi tentang seorang pria yang tidak menerima transformasi. Alih-alih membiarkan cahayanya bersinar, dia membiarkan dosa memadamkan cahayanya sepenuhnya.
Yudas Iskariot bukanlah seseorang yang kita suka bicarakan saat Paskah. Dia dekat dengan Yesus, namun dia mengkhianati-Nya demi tiga puluh keping perak. Kisah Yudas adalah pengingat tragis tentang apa yang terjadi ketika kita memilih jalan kita sendiri daripada jalan Tuhan.
Yudas melihat mukjizat Yesus dan mendengar ajaran-Nya, tetapi hatinya menolak terang yang Yesus tawarkan. Dia berpegang pada keinginan dan harapannya sendiri. Dia menginginkan jenis Mesias yang berbeda—seorang pemimpin politik, seseorang yang kaya dan berpengaruh, seorang pembebas. Dan ketika Yesus tidak sesuai dengan gambaran itu, dia berbalik melawan-Nya.
Pengkhianatan Yudas bukan hanya tindakan fisik; itu adalah penolakan rohani. Dia memilih kegelapan daripada terang, kepentingan diri daripada kasih tanpa pamrih. Dan ketika dia menyadari betapa berat tindakannya, dia diliputi rasa bersalah dan keputusasaan. Dia bahkan tidak pernah mencoba untuk melihat apakah ada kasih karunia yang sama untuknya, seperti yang ada untuk Petrus.
Ini adalah akhir yang menyedihkan, tetapi Alkitab mengatakan, “Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua, dan berkata: ”Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: ”Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!” Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.” (Matius 27:3-5, TB)
Kisah Yudas bukan hanya tentang pengkhianatan, tetapi tentang kehilangan momen transformasi. Dia memiliki kesempatan untuk berjalan bersama Yesus, untuk mengalami kasih karunia-Nya, tetapi dia memilih jalan yang berbeda. Ini adalah pengingat yang serius bahwa bahkan mereka yang dekat dengan Yesus pun bisa melewatkan kuasa transformasi dari kasih-Nya.
Jangan biarkan hatimu menolak Terang Dunia! Jangan biarkan keinginanmu sendiri membutakanmu dari kebenaran. Bukalah hatimu kepada Yesus, serahkan rencanamu kepada-Nya, dan izinkan Dia mengubahkanmu dari dalam ke luar. Jangan biarkan tragedi Yudas menjadi kisahmu. Pilih hidup, pilih pengampunan, pilih Yesus.
Yesus, kami membutuhkan kekuatan-Mu hari ini. Tolong kami belajar kebenaran yang sulit bahwa kami bisa berada dekat dengan Yesus untuk waktu yang lama, namun tetap menolak transformasi-Nya. Tuhan, kami ingin menyerahkan diri pada semua perubahan yang Engkau ingin lakukan dalam diri kami… sekarang juga! Ubah kami, Tuhan.