Seberapa “santai” kamu kelihatannya?
Waktu aku kecil, ada seorang pria besar bernama Georges yang sering datang ke rumah kami. Dia nggak pernah telepon dulu—karena dia memang nggak punya telepon. Dia juga nggak punya rumah yang bisa kami kunjungi. Semua yang dia miliki, dia bawa sendiri.
Setiap kali aku lihat dia datang dari jauh, aku selalu merasa campur aduk—deg-degan tapi juga senang. Buat orang tuaku, kedatangan dia selalu jadi sesuatu yang spesial. Dulu aku nggak ngerti… Apa sih yang bisa diberikan oleh orang yang “nggak punya apa-apa”?
Sekarang aku mengerti. Sekarang, di usia di mana banyak teman sebayaku mulai berpikir: “Aku sudah menggapai apa yang aku mau di dalam hidup? Apa aku sudah punya pekerjaan tetap? Rumah? Keluarga? Tabungan? Masa depan aman yang aman?”
Tapi Georges beda. Dia hidup sesuai dengan yang tertulis di Kitab Mazmur 49:
“Mengapa aku takut pada hari-hari celaka pada waktu aku dikepung oleh kejahatan pengejar-pengejarku, mereka yang percaya akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka?” (Mazmur 49:6-7 TB)
Dia mengerti bahwa:
“Kubur mereka ialah rumah mereka untuk selama-lamanya, tempat kediaman mereka turun-temurun; mereka menganggap ladang-ladang milik mereka. Tetapi dengan segala kegemilangannya manusia tidak dapat bertahan, ia boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan. Inilah jalannya orang-orang yang percaya kepada dirinya sendiri, ajal orang-orang yang gemar akan perkataannya sendiri. Sela Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, digembalakan oleh maut; mereka turun langsung ke kubur, perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka.” (Mazmur 49:12-15 TB)
Dan karena itu, dia berusaha menolong kami untuk memahami dan hidup berdasarkan hal ini:
“Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku. Sela Janganlah takut, apabila seseorang menjadi kaya, apabila kemuliaan keluarganya bertambah,” (Mazmur 49:16-17 TB)
Karena hanya saat kita mengerti arti kekekalan, kita bisa hidup dengan tenang—baik saat punya banyak atau sedikit.
Hari ini aku sadar kenapa aku lebih kagum sama Georges dibandingkan seorang pebisnis sukses. Kalau pebisnis fokus mengisi rekeningnya terus… Georges fokus mengisi surga dengan jiwa-jiwa—dengan melakukan SEMUA yang dia bisa untuk memperkenalkan orang kepada Yesus.
Sepanjang hidupku, aku belum pernah melihat orang sekaya apa pun punya rasa tenang dan aman seperti yang dimiliki Georges. 🤩
Jadi ya—kita perlu memahami kekekalan supaya bisa hidup dengan tenang, entah kita punya sedikit atau banyak!
Kamu adalah sebuah keajaiban!