• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
    • VI Vietnamese
Tanggal publikasi 17 Okt 2026

Tegas dan Jujur?

Tanggal publikasi 17 Okt 2026

Halo, ini satu renungan lagi dari Pastor Grant. Semoga kamu diberkati.

Kemarin aku sempat minta kamu buat berani dan jujur ngucapin ketakutan terbesar kamu secara lantang. Nah, aku gak bakal minta kamu melakukan sesuatu yang aku sendiri gak berani lakuin. So, here’s mine: aku itu sebenarnya takut sama penilaian orang lain tentang aku, dan aku juga takut sendirian.

Rasa takut akan penilaian manusia alias fear of man itu emang bagian hidup yang cukup mengganggu. Mungkin ada orang yang gak terlalu masalah sama hal ini, tapi banyak banget dari kita yang struggle di sini. Terus, gimana cara tahu kalau rasa takut ini lagi ngumpet di lubuk hati kita? Cara paling gampangnya gini: kamu tahu kamu pernah terjebak fear of man kalau kamu pernah ngalah atau ngikutin omongan/opini publik.

Waktu awal-awal mulai khotbah dulu, aku suka ngedit pesan yang mau aku sampaikan cuma demi nyesuaiin sama apa yang menurutku pengen didengar orang-orang. Aku beneran pengen disukai, jadi aku "memotong" bagian-bagian yang tajam dari Firman Tuhan. Aku ngalah sama opini publik cuma karena pengen bikin semua orang senang sama aku. Tapi suatu hari, aku nyadar sesuatu. Aku terus-terusan denger respons yang sama tentang khotbahku: "Wah, khotbahnya 'bagus' (nice) ya, Pastor."

Nice? Cuma itu? Pesan Firman itu harusnya bukan cuma sekadar "bagus"! Harusnya itu menginspirasi, memotivasi, dan merubah hidup—bukan cuma sekadar "bagus"! Aku masih ingat banget pas Tuhan menempelak dan meingatkan aku: "Grant, apa yang mereka pikirkan tentang kamu itu gak penting—yang penting adalah apa yang mereka percayai tentang Aku." Aku sempat kalah sama rasa takut akan manusia. Raja Saul juga seorang yang dipilih Tuhan buat jadi raja, tapi dia gagal total gara-gara ngalah sama rasa takutnya ke manusia:

Berkatalah Saul kepada Samuel: "Aku telah berdosa, sebab telah kulangkahi perintah TUHAN dan perkataanmu; tetapi aku takut kepada rakyat, karena itu aku mendengarkan perkataan mereka." (1 Samuel 15:24)

Kamu juga mungkin pernah ngalah sama fear of man kalau kamu pernah mengambil keputusan cuma gara-gara mikirin "orang lain bakal mikir apa ya?" Contoh simpelnya kayak gini:

  • "Duh, aku gak berani baca Alkitab di kampus/sekolah ah, ntar dikira fanatik..."
  • "Aku gak usah nanya deh, ntar dikira bego..."
  • "Mending aku bilang 'ntar tak doain ya' deh, biar kelihatan rohani..."
  • "Ya udah deh, aku ikut-ikutan aja..." atau "Lagian semua orang juga gitu kok."

Kalau kamu pernah ngomong gitu ke diri sendiri atau hal senada, artinya kamu punya  rasa takut akan penilaian orang. Ada satu lagi nih: kamu udah ngalah sama rasa takut ini kalau kamu pernah ngubah arah hidupmu cuma gara-gara ada orang yang bilang, "Kamu gak bakal bisa..."

Mungkin kamu pernah dengar kata-kata kayak: "Mana bisa kamu hidup buat Tuhan? Mana bisa kamu raih mimpi itu? Kamu bercanda ya?!" Terus respons kamu cuma: "Oh ya udah deh, aku gak usah lakuin itu." Waktu pelayanan Yesus baru dimulai, banyak orang mulai ngikutin Dia. Tapi banyak juga yang akhirnya mundur cuma gara-gara sekelompok orang religius datang dan ngelontorin pertanyaan: "Keluarga kamu bakal mikir apa? Ngapain coba ngikutin orang dari Nazaret?" Merekanya langsung cave in dan nyerah. (Yohanes 12:42-43)

Sahabatku, sekarang aku lagi belajar cara hidup yang baru, dan kamu pun pasti bisa! Penulis kitab Amsal pernah bilang gini: "Takut kepada orang membawa jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi." (Amsal 29:25) Kalau kita mau terbebas dari "perangkap" atau mind trap itu, kita harus percaya dan sadar bahwa Tuhan pengen kita lebih peduli sama pandangan-Nya dibanding omongan atau penilaian orang lain! Tetap semangat ya, dan pilih buat selalu menghormati serta menyenangkan hati Tuhan, cuma Tuhan hari ini!

Aku punya satu kalimat pengingat kecil yang ditulisi di catatan dan ditaruh di meja kerjaku, biar aku selalu ingat buat ngutamain Tuhan: "Aku lebih pilih kelihatan konyol di mata manusia, daripada jadi orang bodoh di mata Tuhan!" Semangat!

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.