• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
    • VI Vietnamese
Tanggal publikasi 7 Sep 2026

The Day Silence Ends

Tanggal publikasi 7 Sep 2026

Wahyu 21:3–5 “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.”

Sepanjang seri ini kita sudah membicarakan:

Tuhan yang diam. Doa yang belum dijawab. Masa menunggu. Penderitaan. Saat kita tidak mengerti pekerjaan Allah.

Dan mungkin setelah semua pembahasan itu muncul pertanyaan, “Tapi bagaimana kalau sampai akhir hidupku aku tetap tidak mendapatkan jawabannya?”

Bagaimana kalau ada doa yang tidak pernah kita lihat jawabannya? Bagaimana kalau ada luka yang tidak pernah sepenuhnya kita pahami? Bagaimana kalau ada pertanyaan tentang hidup yang tetap tidak terjawab? Apakah berarti cerita kita berakhir dalam keheningan? Tidak.

Karena kekristenan tidak menjanjikan bahwa kita akan mendapatkan semua jawaban di dunia ini.

Kekristenan menjanjikan sesuatu yang jauh lebih besar: suatu hari Kristus akan datang kembali.

Dan pada hari itu… keheningan akan berakhir.

Wahyu 21:4 berkata, “Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka…”

Perhatikan siapa yang menghapus air mata itu. Allah sendiri. Bukan malaikat. Bukan manusia. Seolah-olah semua air mata yang pernah kita keluarkan tidak dilupakan. Semua kehilangan.

Semua kesedihan. Semua malam ketika kita bertanya, “Tuhan, di mana Engkau?”

Akan ada hari ketika Tuhan sendiri berkata, “sudah selesai.”

Bukan hanya dosa yang selesai. Penderitaan juga akan selesai. Wahyu 21:4 melanjutkan: “Tidak akan ada lagi kematian; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita…”

Ini bukan sekadar kalimat penghiburan. Ini adalah janji tentang realitas baru. Apa yang sekarang terasa begitu normal: kematian, perpisahan, air mata, dukacita…suatu hari akan menjadi sesuatu dari masa lalu. Dan yang paling indah, “hal-hal yang lama itu telah berlalu.”

Kita tidak berharap kepada masa depan hanya karena kita ingin semuanya menjadi lebih baik. Kita berharap karena: Yesus sudah bangkit.

Kebangkitan adalah bukti bahwa kematian tidak menang. Dan kenaikan Kristus adalah jaminan bahwa Dia akan datang kembali. Jadi pengharapan Kristen bukan, “semoga suatu hari nanti semuanya baik-baik saja.”

Tetapi, “Kristus telah bangkit, Kristus memerintah, dan Kristus akan datang kembali.”

Itulah dasar pengharapan kita.

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.