Tuhan, Aku Gak Cukup
Pernah gak kamu masuk ke sebuah ruangan dan langsung merasa jadi orang yang paling gak capable di sana? Semua orang kelihatannya lebih pintar, lebih confident, lebih berbakat, lebih tau apa yang mereka lakukan. Kamu keterima di universitas yang bagus, tapi malah mikir, “Kayaknya aku cuma beruntung deh bisa masuk sini.” Kamu dapat pekerjaan baru, tapi takut suatu hari bosmu sadar kalau sebenarnya kamu gak sepintar yang mereka kira. Atau mungkin kamu diminta memimpin, pelayanan, presentasi, atau melakukan sesuatu yang baru, dan reaksi pertamamu justru, “Kenapa aku? Aku gak bisa.”
Musa pernah punya pertanyaan yang sama. Ketika Tuhan menemuinya di semak yang menyala, Tuhan memberikan sebuah tugas yang sangat besar: Musa harus kembali ke Mesir, menghadap Firaun, dan membawa bangsa Israel keluar dari perbudakan. Tapi respons Musa bukan, “Siap Tuhan! Aku pasti bisa!” Response pertamanya justru, “Siapakah aku ini?”
Dan kalau melihat masa lalunya, mungkin kita bisa ngerti kenapa Musa merasa begitu. Bertahun-tahun sebelumnya, Musa pernah mencoba membela bangsanya dengan caranya sendiri. Dia membunuh seorang Mesir, perbuatannya diketahui, lalu dia melarikan diri dari Mesir. Sekarang dia bukan pangeran Mesir lagi. Dia hidup jauh dari sana dan bekerja menggembalakan ternak. Lalu tiba-tiba Tuhan berkata: kembali ke tempat yang kamu tinggalkan dan hadapi Firaun.
Musa melihat dirinya dan berpikir, “Aku?”
Tapi jawaban Tuhan menarik. Ketika Musa berkata, “Siapakah aku ini?”, Tuhan gak memberikan motivational speech tentang betapa hebatnya Musa. Tuhan gak berkata, “Musa, percaya diri dong. Kamu sebenarnya talented banget!” Jawaban Tuhan adalah:
“Bukankah Aku akan menyertai engkau?” Keluaran 3:12
Musa sibuk melihat siapa dirinya. Tuhan mengarahkan Musa untuk melihat siapa yang akan menyertainya.
Tapi Musa masih belum yakin. Di Keluaran 4, dia kembali memberikan alasan:
“Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulu pun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mu pun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” Keluaran 4:10
Basically Musa berkata, “Tuhan, mungkin Engkau salah orang. Aku gak punya skill yang dibutuhkan.” Tapi Tuhan tau kelemahan Musa bahkan sebelum Dia memanggilnya. Tuhan gak baru sadar setelah Musa bilang kalau dia gak pandai bicara. Dan Tuhan tetap memilih dia.
Mungkin kita juga sering berpikir Tuhan hanya bisa memakai versi terbaik dari diri kita. Nanti kalau aku udah lebih confident, baru aku bisa pelayanan. Kalau aku udah lebih pintar, baru aku bisa mengambil kesempatan itu. Kalau aku udah gak insecure, baru aku berani melangkah. Kalau aku udah punya semua skill yang dibutuhkan, baru Tuhan bisa pakai aku.
Tapi kalau kita terus menunggu sampai merasa “cukup”, mungkin kita gak akan pernah mulai.
Tentu ini bukan berarti kita gak perlu belajar, berkembang, atau mempersiapkan diri. Musa sendiri harus melewati proses panjang. Tapi ada perbedaan antara menyadari bahwa kita masih perlu bertumbuh dengan terus-menerus menolak melangkah karena merasa diri kita gak cukup.
Kadang kita bahkan berdoa, “Tuhan, kalau memang Engkau mau aku melakukan ini, bikin aku lebih percaya diri dulu.” Tapi Tuhan terasa diam. Rasa takutnya masih ada. Insecurity-nya masih ada. Kita masih merasa belum siap.
Mungkin Tuhan gak sedang menunggu kamu merasa cukup. Mungkin Dia sedang mengajar kamu bahwa Dia cukup.
Ketika Tuhan memanggil Musa, janji-Nya bukan bahwa Musa gak akan pernah takut atau gak akan pernah merasa kurang. Janji-Nya adalah, “Aku akan menyertai engkau.”
Dan janji itu jauh lebih kuat daripada rasa percaya diri kita.
Jadi ketika kesempatan datang dan suara di kepalamu mulai berkata, “Kamu gak sepintar mereka. Kamu gak punya pengalaman sebanyak mereka. Kamu gak cukup berbakat. Kamu belum siap,” jangan pura-pura kelemahanmu gak ada. Bawa semuanya kepada Tuhan. Belajar. Persiapkan diri. Minta bantuan kalau perlu. Tapi jangan biarkan insecurity menjadi suara yang lebih besar daripada Tuhan.
Karena pertanyaan terpentingnya bukan cuma, “Apakah aku cukup?”
Tapi, “Apakah Tuhan yang memanggilku akan menyertaiku?”
Musa merasa dirinya bukan orang yang tepat. Tapi Tuhan tau siapa yang Dia panggil.
Dan kalau hari ini Tuhan sedang mengajakmu melangkah, ingat ini:
Tuhan tau kelemahanmu. Tuhan tau ketakutanmu. Tuhan tau apa yang belum bisa kamu lakukan. Dan Dia gak mengetahuinya setelah memilihmu. Dia sudah tau sejak awal.
Tuhan gak salah pilih kamu.