• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
    • VI Vietnamese
Tanggal publikasi 6 Sep 2026

Tuhan Dalam Pergumulan Manusia

Tanggal publikasi 6 Sep 2026

“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.” Ayub 7:1-3 TB

“Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi? Maka aku akan menaruh harap selama hari-hari pergumulanku,sampai tiba giliranku; maka Engkau akan memanggil, dan aku pun akan menyahut; Engkau akan rindu kepada buatan tangan-Mu. Sungguhpun Engkau menghitung langkahku, Engkau tidak akan memperhatikan dosaku;pelanggaranku akan dimasukkan di dalam pundi-pundi yang dimeteraikan, dan kesalahanku akan Kau tutup dengan lepas.” Ayub 14:14-17 TB

“Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu.” Ayub 19:25-27 TB

Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Ada banyak hal yang terjadi selama menjalani 2026 di Tanah Air ini, mulai dari kasus keracunan makanan secara massal, perang politik di Timur Tengah yang membuat stok BBM tidak menentu, harga kebutuhan pokok yang perlahan meningkat, nilai tukar rupiah yang melemah, dan beberapa hal lain yang menyangkut kepercayaan kita terhadap pemerintah.

Sadar atau tidak pergumulan global diluar sana perlahan menjadi pergumulan personal. Nggak sedikit dari kita pasti mengeluhkan hari-hari yang dijalani, entah mengucapkannya di dalam hati atau mengutarakannya kepada orang terdekat. Seperti Ayub yang berkata “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.” Kita pun mulai berkata, "sia-sia kita hidup dengan baik, karena akhirnya sama saja susahnya"

Kita mulai berharap agar dunia cepat berakhir sehingga kita bertemu dengan Tuhan di tempat yang penuh kebahagiaan. Tapi disaat yang sama, kita berpikir, "apakah kehidupan yang kita jalani ini benar dihadapan Tuhan? Apakah kita selaras dengan Firman-Nya? Jangan-jangan selama ini kita tidak benar-benar bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus?" Perasaan kita campur aduk, hidup segan mati tak mau.

Salah satu teolog bernama John Charles Ryle pernah berkata dalam salah satu kothbahnya tentang Matius 15:21-28 "Pencobaan dimaksudkan untuk membuat kita berpikir, melepaskan kita dari keterikatan pada dunia, membawa kita kembali kepada Firman Tuhan, dan mendorong kita untuk berlutut dalam doa.”

Pesan quote ini memunculkan pemikiran baru soal pergumulan kita, "bagaimana jika pergumulan itu ada untuk membuat iman kita semakin murni kepada Tuhan? Seperti yang dikatakan Firman Tuhan dalam Yakobus 1:2-3 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan."

“Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Yakobus 1:12 TB

Ayub mengalami hal ini, dikala penderitaannya ia melihat bahwa Tuhan tidak berdiam diri: “Sungguhpun Engkau menghitung langkahku, Engkau tidak akan memperhatikan dosaku; pelanggaranku akan dimasukkan di dalam pundi-pundi yang dimeteraikan, dan kesalahanku akan Kaututup dengan lepa… Aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.. Aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain.”

Ayub melihat pengorbanan Kristus di masa depan. Ia melihat Allah yang turun dari surga dan ikut menderita. Pembelaan Allah terhadap kita adalah keikutsertaan-Nya menanggung pergumulan.

Bukan hanya dari 1 manusia tetapi semua manusia, Ia sendiri menanggung pergumulan akibat dosa. Supaya kita bisa melihat Tuhan di dalam kesusahan, dan supaya kita tidak kehilangan iman!

Jadi ketika kita bergumul, perkatakan ini dalam hati, "Tuhan terlebih dulu menderita, supaya pergumulanku hari ini membawa aku semakin dekat dengan Tuhan. Aku tahu: Penebusku hidup! Dan Ia memihak padaku"

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.