Tuhan, Dia Orangnya Bukan?
“God, kalau dia memang orangnya, kasih tanda dong.”
Pernah doa kayak gitu?
Mungkin bentuknya beda-beda. “Kalau dia chat aku malam ini, berarti dia orangnya.” “Kalau besok dia pakai baju warna biru, berarti ini dari Tuhan.” Atau versi yang sedikit lebih rohani, “Tuhan, kalau relationship ini memang dari Engkau, bikin semuanya berjalan lancar.”
Ketika kita suka sama seseorang, kita pengen kepastian. Apalagi kalau kita udah berdoa cukup lama tapi Tuhan rasanya diam. Dia gak bilang “iya”, tapi juga gak bilang “gak”. Akhirnya kita mulai mencari jawaban dari mana-mana. Dari perasaan, keadaan, omongan teman, TikTok, sampai hal-hal random yang kemudian kita anggap sebagai sign dari Tuhan.
Di Kejadian 24 ada cerita yang sekilas terdengar seperti cerita tentang “minta tanda untuk menemukan jodoh”. Abraham sudah tua dan meminta hambanya pergi mencari istri bagi Ishak dari kaum keluarganya. Ini bukan tugas kecil. Hambanya harus melakukan perjalanan jauh untuk mencari seseorang yang bahkan belum pernah dia temui.
Ketika sampai di dekat sebuah sumur, hamba Abraham berdoa kepada Tuhan. Dia meminta supaya perempuan yang memberikan minum kepadanya dan juga menawarkan minum untuk unta-untanya menjadi perempuan yang Tuhan tentukan bagi Ishak.
“Kiranya terjadilah begini: anak gadis, kepada siapa aku berkata: Tolong miringkan buyungmu itu, supaya aku minum, dan yang menjawab: Minumlah, dan unta-untamu juga akan kuberi minum – dialah kiranya yang Kautentukan bagi hamba-Mu, Ishak...” Kejadian 24:14 TB
Lalu datanglah Ribka. Dan yang menarik, Ribka melakukan persis seperti yang hamba Abraham doakan. Dia memberikan air kepada hamba itu dan menawarkan untuk memberi minum semua untanya juga.
Kalau kita baca cerita ini terlalu cepat, mungkin kesimpulannya jadi: “Oh, berarti kalau aku suka seseorang, aku juga harus minta tanda.”
Tapi sebenarnya inti ceritanya lebih besar dari itu.
Hamba Abraham bukan sedang mencari cara supaya Tuhan menyetujui orang yang sudah dia pilih. Dia datang tanpa tau siapa orangnya dan meminta Tuhan memimpin perjalanannya. Ada perbedaan besar antara berkata, “Tuhan, tunjukkan kehendak-Mu,” dengan berkata, “Tuhan, aku maunya dia. Sekarang kasih aku tanda kalau Engkau setuju.”
Dan kalau jujur, kadang kita melakukan yang kedua.
Kita sudah suka. Sudah berharap. Sudah membayangkan bakal seperti apa kalau akhirnya bersama. Lalu kita datang kepada Tuhan bukan untuk menyerahkan keinginan kita, tapi mencari konfirmasi supaya Tuhan menyetujui apa yang kita mau.
Makanya ketika Tuhan diam, kita frustrasi.
“Tuhan, dia orangnya bukan?”“Tuhan, kenapa relationship ini gak jalan?”“Tuhan, kenapa dia malah suka orang lain?”“Tuhan, aku udah doa. Kenapa gak ada jawaban?”
Mungkin kamu pernah ada di posisi itu. Atau mungkin kamu sedang ada di sana sekarang. Kamu suka seseorang dan gak tau harus lanjut atau berhenti berharap. Kamu baru putus dan masih bertanya kenapa Tuhan membiarkan relationship itu berakhir. Atau mungkin kamu melihat teman-temanmu mulai punya pasangan sementara kamu masih sendiri.
Tapi ada satu hal yang perlu kita ingat: Tuhan gak pernah berjanji bahwa Dia akan memberikan semua orang yang kita inginkan. Tapi Tuhan berjanji untuk tetap memimpin orang yang percaya kepada-Nya.
Dan terkadang pimpinan Tuhan datang dalam bentuk yang gak kita suka. Ada pintu yang terbuka, tapi ada juga pintu yang tertutup. Ada orang yang tinggal, ada juga yang pergi. Ada doa yang dijawab “iya”, tapi ada juga yang jawabannya “gak”.
Kalau Tuhan gak memberikan orang yang kamu inginkan, itu bukan berarti Tuhan sedang menghukum kamu. Dan kalau sampai sekarang kamu masih sendiri, itu juga bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan dirimu.
Relationship adalah bagian dari hidup kita, tapi relationship bukan pusat hidup kita. Kristus adalah pusatnya.
Jadi mungkin daripada terus bertanya, “Tuhan, dia orangnya bukan?”, kita bisa mulai dengan pertanyaan yang berbeda: “Tuhan, apakah hubungan ini membuat aku semakin dekat kepada-Mu? Apakah aku tetap bisa taat kalau jawaban-Mu ternyata berbeda dari yang aku inginkan?”
Karena iman bukan tentang membuat Tuhan mengikuti pilihan kita. Iman adalah belajar mempercayakan pilihan kita kepada Tuhan.
Kamu boleh suka seseorang. Kamu boleh berharap. Kamu boleh berdoa supaya relationship itu berhasil. Tapi tetap sisakan ruang untuk berkata:
“Tuhan, aku menginginkan ini. Tapi lebih dari itu, aku menginginkan kehendak-Mu.”
Dan kalau sekarang Tuhan masih terasa diam, kamu gak perlu mengubah setiap kejadian kecil menjadi tanda.
Jangan kejar tanda. Kejar Tuhan.