• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 7 Agt 2026

Tuhan yang Mendengarkan

Tanggal publikasi 7 Agt 2026

Pujian adalah respons yang alami dan penuh sukacita atas semua yang sudah Tuhan lakukan dan sedang lakukan dalam hidupmu. Luangkan sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan dalam hidupmu. Hitunglah setiap berkat-Nya. Lalu, mari kita kembali kepada Doa Bapa Kami.

"Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu..."

Bagian ini adalah momen pujian yang mengalir secara alami di dalam doa. Anak Allah sendiri mengajarkan kita untuk memuji Bapa-Nya.

Aku akan memulainya:

"Tuhan, Engkau kudus dan aku menyembah-Mu. Engkau layak menerima segala pujianku, dan aku tidak mau menahannya. Aku aman bersama Bapaku dan merasa tenang di rumah Bapaku. Aku memuji-Mu karena Engkau memang layak menerima segala pujian!"

Pujian adalah sukacita yang kita ungkapkan dengan kata-kata.

Hari Selasa sore aku memimpin sebuah komsel di pantai. Suasananya begitu sempurna. Matahari terasa hangat, angin bertiup sejuk, Hatiku dipenuhi rasa kagum, dan aku tidak bisa menahan diri untuk memuji Tuhan karena mengizinkanku menyaksikan keindahan yang Tuhan berikan dari dekat.

Yesus juga memberikan kita tempat di barisan terdepan untuk menyaksikan kisah kasih Tuhan. Dan kita adalah mempelai-Nya! Karena itulah kita memuji Dia dan berkata, "Dikuduskanlah nama-Mu."

Doa itu kemudian berlanjut:

"...datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga."

Bagian ini mengingatkanku pada sesuatu yang pernah kubahas sebelumnya: Pernahkah pikiranmu mengembara saat sedang berdoa? Aku sendiri sering mengalaminya. Sulit bagiku untuk tetap fokus.

John Ortberg pernah berkata, "Sering kali aku keliru menganggap doa sebagai kekhawatiran yang diucapkan dengan keras."

Kalimat itu benar-benar menggambarkan diriku. Awalnya aku sungguh-sungguh berdoa meminta pertolongan Tuhan tentang satu hal. Lalu tanpa sadar kekhawatiran mulai masuk. Sebelum kusadari, pikiranku sudah membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang sama sekali jauh dari apa yang sedang kudoakan.

Bagian dari Doa Bapa Kami ini membawaku kembali kepada kebenaran. Doa ini mengingatkanku siapa diriku sebenarnya. Bapaku adalah Raja, dan aku adalah bagian dari Kerajaan-Nya. Identitasku adalah apa yang Dia katakan tentang diriku... titik.

Aku adalah anak Tuhan. Tujuanku adalah melakukan kehendak-Nya di bumi selama Dia masih memberikan napas kehidupan kepadaku untuk menjalankan rencana-Nya.

Apakah kamu sudah menemukan tempatmu di dalam Kerajaan Tuhan? Mukjizatmu hari ini adalah keyakinan bahwa Tuhan mendengarkanmu, dan Dia telah menetapkanmu sebagai ahli waris Kerajaan-Nya. Karena itu, berdoalah dengan penuh keyakinan:

"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." — Matius 6:9–13 (TB)

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.