• ID
    • AR Arabic
    • CS Czech
    • DE German
    • EN English
    • ES Spanish
    • FA Farsi
    • FR French
    • HI Hindi
    • HI English (India)
    • HU Hungarian
    • HY Armenian
    • ID Bahasa
    • IT Italian
    • JA Japanese
    • KO Korean
    • MG Malagasy
    • MM Burmese
    • NL Dutch
    • NL Flemish
    • NO Norwegian
    • PT Portuguese
    • RO Romanian
    • RU Russian
    • SV Swedish
    • TA Tamil
    • TH Thai
    • TL Tagalog
    • TL Taglish
    • TR Turkish
    • UK Ukrainian
    • UR Urdu
Tanggal publikasi 9 Agt 2026

Tuntunan Tuhan

Tanggal publikasi 9 Agt 2026

Hari ini kita akan menutup perjalanan kita bersama dalam mempelajari Doa Bapa Kami. Sebenarnya kita bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merenungkan dan menggali sukacita serta pengharapan yang begitu dalam di dalam doa ini. Namun untuk saat ini, tibalah waktunya menutup perjalanan yang luar biasa ini.

Doa itu diakhiri dengan kalimat:

"Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat."

Di bagian ini, kita beralih dari permohonan akan pemeliharaan Tuhan "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.", lalu pengampunan “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.", menuju sebuah permohonan akan tuntunan Tuhan.

Bagiku, kalimat "Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan" berarti, "Tuhan, jauhkan aku dari jalan yang akan membawaku pada keputusan-keputusan buruk yang sebenarnya bisa kutebak akibatnya."

Mungkin kamu pernah mendengar doa seperti ini:

"Tuhan, sampai sejauh ini hari ini aku baik-baik saja. Aku belum bergosip, belum marah, belum serakah, belum mengeluh, belum bersikap jahat, egois, atau berlebihan. Aku bersyukur untuk itu. Tapi sebentar lagi aku akan bangun dari tempat tidur, dan mulai saat itu aku benar-benar membutuhkan pertolongan-Mu. Terima kasih. Amin."

Siapa yang akan kita ikuti hari ini? Yang menuntun kita ke dalam pencobaan, atau Dia yang menuntun kita kepada tempat yang aman?

Saat aku masih menjadi remaja, aku pernah ikut youth camp. Di tengah perjalanan mesin bus kami mengalami overheat. Blok mesinnya sampai memerah karena panas. Kami terjebak di pinggir jalan dan aku mulai panik.

Lalu seorang anak bernama Gary dengan tenang berkata, "Mungkin kita sebaiknya berdoa."

Benar juga, Gary...

Aku malah merasa malu karena Gary memberikan respons yang benar di hadapan Tuhan lebih cepat daripada aku. Kami pun berdoa, menutup kap mesin, lalu melanjutkan perjalanan.

Beberapa kilometer kemudian, jarum penunjuk suhu mesin mulai turun. Saat kami berhenti untuk memeriksanya, salah satu pemimpin meletakkan tangannya di ruang mesin, dan ternyata mesinnya hanya terasa hangat!

Sejak saat itu aku mulai berpikir...

Kenapa aku tidak lebih cepat berdoa dalam situasi seperti itu? Kenapa aku tidak segera meminta Tuhan melepaskanku dari kemarahan dan ketakutanku? Kenapa aku tidak langsung meminta Tuhan menuntunku, menunjukkan jalan yang harus kuambil, menjauhkan aku dari pencobaan, dan melindungiku dari si jahat?

Bukankah strategi terbesar Iblis adalah membuat anak-anak Tuhan berhenti berbicara dengan Bapa mereka?

Jangan pernah berhenti berdoa!

Lalu... apakah doa ini benar-benar berakhir di situ?

Tidak juga.

Sejak masa gereja mula-mula, para pengikut Yesus menambahkan kata-kata:

"Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya."

Melalui kalimat itu mereka sedang berkata, "Tuhan, biarlah seluruh doa ini hanya tentang Engkau."

Kemudian ada satu kata terakhir:

"Amin."

Sama seperti kita memulai doa dengan menyapa Tuhan, kita juga mengakhirinya dengan pujian kepada-Nya. Kata kecil ini lebih dari sekadar penutup doa. Amin adalah sebuah pernyataan iman yang penuh keyakinan.

"Ya! Jadilah demikian! Inilah yang sungguh kami inginkan."

Ini bukanlah akhir. Ini baru permulaan dari musim baru yang penuh dengan mukjizat, saat kita terus menghidupi doa yang berharga ini:

"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin." — Matius 6:9–13 (TB)

Debbie Wiratno
Penulis

Terdorong oleh Roh Kudus untuk menulis renungan yang penuh harapan, berdasarkan kebenaran Firman Tuhan dan tepat waktu.