Waktu Tuhan Lebih Baik Dari Waktu Kita...
Pengkhotbah 3:11, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…”
Ada pertanyaan yang sering muncul dalam doa, “kapan?”
Kapan aku sembuh? Kapan masalah ini selesai?
Kapan Tuhan membuka jalan? Kapan doaku dijawab?
Kapan aku mendapatkan apa yang selama ini aku tunggu?
Dan terkadang yang paling sulit bukan ketika Tuhan berkata “tidak.” Yang paling sulit adalah ketika Tuhan berkata, “belum.”
Karena “tidak” memberikan kepastian. Tetapi “belum” membuat kita harus menunggu. Kita terbiasa dengan sesuatu yang instan.
Pesan → dibalas.
Pesan makanan → datang.
Cari sesuatu → Google langsung memberikan jawaban.
Tanpa sadar kita membawa budaya instan itu ke dalam hubungan dengan Tuhan. Kita berdoa, “Tuhan, sekarang ya.”
Tetapi Tuhan tidak bekerja berdasarkan tuntutan waktu kita. Kita melihat kebutuhan hari ini. Allah melihat seluruh perjalanan hidup kita.
Pengkhotbah berkata: “Segala sesuatu indah pada waktunya” Perhatikan:
“pada waktunya.”
Bukan:
“pada waktu yang kita inginkan.”
Allah tidak hanya mengatur apa yang terjadi. Dia juga mengatur kapan sesuatu terjadi. Dan sering kali masalah kita bukan karena kita tidak percaya Allah mampu. Kita percaya Dia mampu.
Masalahnya, “Tuhan, kenapa bukan sekarang?”
Salah satu contoh di dalam Alkitab adalah kisah Lazarus. Yohanes 11 mengatakan Lazarus sakit. Maria dan Marta mengirim pesan kepada Yesus:
“Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.”
Kalau kita menjadi mereka, kita mungkin berpikir: “Yesus pasti datang sekarang.”
Tetapi Yesus tidak langsung datang. Bahkan Yohanes 11:6 mengatakan, “Namun setelah didengar-Nya bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, dimana Ia berada.”
Sengaja. Itu kata yang berat. Yesus tahu Lazarus sakit. Yesus mengasihi Lazarus. Tetapi Yesus menunggu. Ketika Yesus akhirnya datang, Lazarus sudah mati. Marta berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”
Kalimat itu sebenarnya mengandung iman sekaligus kekecewaan. Seolah-olah Marta berkata: “Aku tahu Engkau bisa menyembuhkan dia. Aku tahu Engkau mengasihi kami. Tapi kenapa Engkau datang terlambat?”
Bukankah itu juga sering menjadi doa kita? “Tuhan, aku tahu Engkau bisa. Aku tahu Engkau baik. Tapi kenapa Engkau tidak datang ketika aku membutuhkan-Mu?”
Namun kalau kita baca kisah lanjutannya, nyatanya Yesus datang di masa yang tepat. Karena Yesus tidak hanya ingin menyembuhkan Lazarus. Dia ingin menyatakan sesuatu yang lebih besar, “Akulah kebangkitan dan hidup.”
Kalau Yesus datang lebih awal dan hanya menyembuhkan Lazarus… mereka melihat kuasa penyembuhan. Tetapi karena Yesus datang ketika Lazarus sudah mati… mereka melihat kuasa-Nya atas kematian. Apa yang mereka pikir sebagai keterlambatan ternyata menjadi panggung untuk menyatakan kemuliaan Kristus.
“Allah terlalu bijaksana untuk salah. Dan terlalu baik untuk bertindak dengan kejam terhadap anak-anak-Nya.” - Charles Spurgeon
Saat kita tidak bisa memahami waktu-Nya, percayalah pada hikmat-Nya. Ketika kita tidak bisa mengerti keputusan-Nya, percayalah pada kebaikan-Nya.